Laailahaillallah Muhammad Rasulullah Amirul Mukminin Waliyullah

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Ciptakan Kejahatan?


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bias menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein (Kisah Nyata)

ALLAH-RASUL-ULUL AMR

Konsep Kepemimpinan Dalam Islam

Salah satu prinsip utama Islam yang mendapat perhatian besar Al Quran adalah prinsip wilayah. Al Quran menyebutnya hingga 236 kali. 124 kali dalam bentuk kata benda dan 112 kali dalam bentuk kata kerja. Salah satunya adalah yang terdapat pada surat Al-Maidah ayat 55 dan 56. Pada kedua ayat ini Al Quran menggunakan kedua bentuk kata wilayah itu.

"Sesungguhnya wali (bentuk kata benda) kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat saat mereka sedang ruku'. Maka barangsiapa yang berwilayah (kata kerja : yatawallâ) kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, sesungguhnya partai Allah adalah yang menang."

Secara bahasa, wilayah atau walayahyang berakar dari kata w-l-y pada dasarnya mengandung makna kedekatan, apakah itu kedekatan jasmaniyah atau kedekatan maknawiyah. Karena itu, ia kadang berarti berteman, menolong, mencintai, mengikuti, menteladani, memimpin atau mematuhi. Karena makna-makna tersebut pada dasarnya merujuk pada makna adanya kedekatan antara pelaku, subyek, dan penderita.

Kata wâlî (isim fail: nama pelaku) misalnya, kadang berarti teman, pembela, atau pemimpin; tergantung penggunaannya. Ketiga makna yang berbeda ini sesungguhnya memiliki dasar yang sama, yakni adanya kedekatan antara subjek dengan objek. Karena itu ia bisa berarti salah satunya atau keseluruhannya, tergantung qarinah, keadaan yang menyertainya dalam pembicaraan. Ayat 5 : 55-56 di atas misalnya, walayah (wali) digunakan dalam arti kepemimpinan.

Jadi maknanya: "Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat ketika mereka sedang ruku. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya, sesungguhnya partai Allah adalah yang menang."

Sementara itu pada ayat 10 : 62, walayah(auliya') dimaksudkan sebagai kekasih: "Ketahuilah, sesungguhnya para kekasih Allah (Auliya' Allah) tidak memiliki rasa takut dan tidak pernah gusar". Sehubungan dengan itu, Al Quran banyak berbicara tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi persoalan wilayah ini. Atau dengan kata lain, bagaimana seharusnya kita berwilayah.

Al Quran menjelaskan terdapat dua bentuk wilayah, yaitu wilayah positif dan wilayah negatif. Wilayah positif ialah wilayah yang diseru oleh Allah, sedangkan wilayah negatif ialah wilayah yang dilarang Allah. Maksudnya ialah Allah memerintahkan kita agar berwilayah kepada pihak-pihak yang diperkenankan-Nya (wilayah positif) dan melarang kita berwilayah kepada pihak-pihak yang tidak diperkenankan-Nya (wilayah negatif).

1.Wilayah Negatif

Berkaitan dengan wilayah negatif, Al Quran dengan tegas mengatakan bahwa kaum Muslimin dilarang berwilayah kepada orang-orang yang berada di luar barisan mereka, yakni orang-orang kafir. Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu angkat musuh-Ku dan musuhmu sebagai wali-wali, yang kamu curahkan cinta kasihmu kepada mereka. Karena mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepadamu, mengusir Rasulullah, dan mengusir kamu karena imanmu kepada Allah Tuhanmu."(QS. 60:1)

Hal itu karena orang-orang yang jelas-jelas menolak kebenaran, tidak dapat dipercaya. Dalam diri mereka tersimpan rasa permusuhan dan ketidaksenangan terhadap kaum Muslimin. Al Quran menegaskan: "Jika mereka menangkap kamu, mereka memperlakukanmu sebagai musuh dan bertindak buruk terhadapmu dengan tangan dan lidah mereka. Mereka ingin kamu kembali kafir lagi."(QS 60:2)

Akan tetapi larangan ini tidak berarti bahwa kaum Muslimin juga dilarang berbuat baik kepada orang-orang luar (non muslim) yang tidak punya maksud buruk terhadap kaum Muslimin. Sama sekali tidak. Al Quran dengan jelas menyatakan: "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu dalam agama dan mengusir kamu dari tempatmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil." (QS 60: 8 )

Islam adalah agama rahmatan lil-'âlamîn. Agama yang menyeru umatnya untuk berbuat baik kepada siapa pun. Akan tetapi karena di antara orang-orang kafir itu terdapat orang-orang yang punya maksud buruk terhadap Islam, kaum Muslimin harus selalu waspada dan tidak boleh lengah sedikitpun. Sebab jika mereka lengah, orang-orang kafir itu dapat menguasai kaum Muslimin. Untuk itu wilayah tidak boleh diberikan kepada orang-orang kafir.

2.Wilayah Positif

Ada dua bentuk wilayah positif yang mesti dilakukan oleh kaum Muslimin, yaitu wilayah terhadap kaum Muslimin secara umum, disebut Wilayah Positif Umum. Dan wilayah kepada pihak-pihak tertentu secara khusus, Wilayah Positif Khusus. Ada banyak penjelasan tentang kedua hal ini secara khusus di dalam Al Quran. Demikian pula penjelasan oleh Nabi SAWW.

2.1.Wilayah Positif Umum

Al Quran menegaskan bahwa kaum Muslimin satu sama lain adalah wali terhadap yang lainnya. "Wal Mu`minûna wal mu`minâtu ba'dhuhum auliyâ`u ba'dh." (QS 9:71) Mereka adalah saudara, innamal mu'minûna ikhwah. (QS 49: 10) Hubungan sesamanya didasarkan pada cinta kasih, ruhamâ`u bainahum (QS 48:29).

Bahkan Nabi SAWW menggambarkan bahwa kaum Muslimin itu bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka anggota yang lain ikut sakit. Karena itu kaum Muslimin tidak boleh gontok-gontokan (QS 8:46). Harus bersatu (QS 3: 103) dan membangun hubungan di antara mereka dengan saling percaya (QS 48:12). Jika demikian, maka kaum Muslimin akan jaya selamanya. "Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersikap gusar. Sesungguhnya kamulah yang unggul, jika kamu beriman."(QS 3: 139)

2.2.Wilayah Positif Khusus

Yang dimaksud di sini adalah wilayah kepada Ahlul Bayt, keluarga suci Nabi SAWW. Ahlussunnah dan Syi'ah sepakat bahwa Nabi SAWW menuntut umatnya agar berwilayah kepada Ahlul Bayt a.s. Al Quran Surat As-Syura (42) 23 menegaskan: “Katakan: "Aku tidak minta upah apapun atas risalahku ini kecuali cinta kepada keluarga(ku)."

Demikian pula ayat 55-56 Surat Al-Maidah (5): "Sesungguhnya (wali) pemimpin kamu ialah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat saat mereka ruku".Para ahli tafsir menjelaskan bahwa orang beriman yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. Nabi SAWW berkata: "Barangsiapa yang menganggapku sebagai maula,, pemimpinnya, maka Ali adalah maula, pemimpinnya."

Namun demikian, wilayah kepada Ahlul Bayt a.s. dapat dibagi dalam beberapa bentuk. Pertama, wilayah mahabbahatau kecintaan kepada Ahlul Bayt a.s. Kedua, wilayah imamahatau menteladani dan mengikuti Ahlul Bayt a.s. Ketiga, wilayah zi’âmah atau mengakui Ahlul Bayt a.s. sebagai pemimpin-pemimpin sosial dan politik. Dan keempat wilayah tasharrufatau mengakui Ahlul Bayt a.s. memiliki kemampuan "mengendalikan" alam.

Wilayah Mahabbah

Cinta kepada Ahlul Bayt a.s. merupakan keharusan yang tidak terbantahkan. Puluhan bahkan ratusan hadis menyeru kita untuk mencintai Ahlul Bayt a.s., apakah itu hadis Sunni atau Syi’ah. Bahkan ahli tafsir terkenal, Fakhrur Razi, penulis kitab At-tafsîrul Kabîr, yang dalam masalah khilafah menyerang keras pandangan Syi’ah, menukil banyak hadis tentang kewajiban mencintai Ahlul Bayt a.s. Antara lain:

"Barangsiapa yang meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad (Ahlul Bayt), maka ia mati sebagai syuhada. Ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati sebagai orang yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah. Ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati sebagai orang yang taubat kepada Allah. Dan ketahuilah, barangsiapa yang meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati sebagai orang yang telah sempurna imannya."

Berkenaan dengan kecintaan kepada Ahlul Bayt a.s. ini, lmam Syafi’i telah menggubah beberapa syair kecintaan kepada Ahlul Bayt. Antara lain:


Wahai Ahlul Bayt Rasulullah

Mencintai kalian diwajibkan Tuhan

Tingkatmu agung sudah jelaslah

Dalam Al Quran terdapat bahan

Siapa meninggalkan shalawat untuk kalian

Shalat tidak sah, begitu hukumnya

Tinggi kedudukan, tinggi derajat kalian

Merupakan karunia Allah semuanya

Jika Ali serta Fatimah

Dipuji orang dengan sanjungan

Pasti ada orang amarah

Menamakan Rafdhi dalam kenangan

Lalu kutanyai orang berbudi

Yang kuat imannya kepada Allah

Mencintai Fatimah bukan Rafdhi

Sebaliknya mencintai Rasulullah

Shalawat Tuhan tidak terhingga

Kepada Ahlul Bayt serta salam

Laknat turun tangga

Kepada jahiliyah masa silam



Dalam pada itu diceritakan bahwa Farazdaq, penyair terkenal pada abad pertama Hijrah yang secara spontan melontarkan syair-syair pujian kepada Imam Ali Zainal Abidin a.s. putra lmam Husein a.s. tatkala Ibn Hisyam, penguasa Umaiyah, pura-pura tidak mengenalnya saat ia dengan kesal menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa orang-orang memberi jalan kepada Imam agar dapat bertawaf dengan baik. Sementara ia sendiri harus menanti berjam-jam menunggu sepinya petawaf. Ketika ditanya dalam mimpi sesudah ia meninggal dunia, apa yang dialaminya? Farazdaq menjawab bahwa ia telah diselamatkan oleh syair-syair pujiannya kepada Imam Ali Zainal Abidin.

Dengan demikian, maka seluruh kaum muslimin, siapa pun mereka, harus mencintai Ahlul Bayt Rasulullah SAWW.

Wilayah Imamah

Yang dimaksud dengan Wilayah Imamah ialah al-marjaiyyah al-diniyyah atau posisi sebagai panutan dalam masalah-masalah agama dan akhlak. Umat harus menteladani mereka dan merujuk kepada mereka dalam masalah-masalah agama. Cinta saja, dalam arti kecenderungan perasaan, masih belum cukup. Cinta harus diikuti oleh sikap menteladani orang yang dicintai. Itulah maksud dari firman Allah (QS 3:31): “Katakanlah : "Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku. Dengan demikian, Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Itulah arti cinta sejati. Tentang Rasulullah, Allah berfirman: "Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik buat kamu." (QS 33:21) Ayat ini menjelaskan tentang wilayah imamah yang dimiliki Rasullulah SAWW. Kaum muslimin harus merujuk kepada Rasulullah SAWW dan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan mereka.

Sesudah Rasulullah SAWW, posisi ini dipikul oleh Ahlul Bayt a.s. Nabi SAWW bersabda: "Kutinggalkan pada kamu dua hal yang berat (tsaqalain), jika kamu berpegang kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat untuk selamanya, yaitu Kitab Allah dan keluargaku, Ahlul Baytku. "

Hadis Nabi tentang keharusan mengikuti Ahlul Bayt a.s. ini adalah hadis yang shahih, bahkan mutawatir. Semua ulama sepakat tentang kebenaran hadis ini dan tidak seorang pun yang berani menolaknya. Ia diriwayatkan oleh lebih dari 20 Sahabat Nabi. Karena itu ia termasuk di antara hadis-hadis yang qat'iy, yang kepastiannya tidak dapat diragukan oleh siapa pun. Selain hadis tsaqalain ini terdapat banyak hadis lain yang memiliki makna yang sama.

Misalnya hadis : "Barangsiapa yang ingin hidup seperti aku, maka ia harus berwilayah kepada Ali sesudahku dan mengikuti para imam dan keluargaku yang telah dikaruniai dengan pengetahuan dan kecerdasan. Celakalah orang-orang yang mengingkari keunggulan mereka. Orang-orang seperti ini akan dicabut keperantaraanku untuk kepentingan mereka." dan sebagainya.

Wilayah Ze’âmah

Wilayah Ze’âmah atau kepemimpinan sosial-politik ialah otoritas yang diberikan Allah kepada nabi-Nya untuk mengatur urusan kemasyarakatan, tidak terkecuali masalah kekuasaan. Nabi SAWW adalah Wali Amril Muslimin atau penguasa Islam. Sesudah Nabi SAWW, otoritas atau wilayah ze’âmah ini dilimpahkan kepada Ahlul Bayt a.s. Merekalah yang dimaksud dalam firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para Wali Amr kamu." (QS 4:59) Berdasarkan hadis yang sahih, wali amr kamu di sini adalah para lmam Ahlul Bayt a.s.

Wilayah Tasharruf

Wilayah Tasharruf atau Wilayah Maknawiyahialah kemampuan yang diberikan Allah kepada seseorang yang telah mencapai maqam qurb, posisi kedekatan dengan Allah yang sedemikan rupa sehingga yang bersangkutan dianugrahkan kekuasaan mengendalikan alam dan jiwa manusia. Wilayah ini adalah wilayah tertinggi yang mungkin dapat dicapai oleh manusia. Al Quran dengan tegas menyatakan adanya orang-orang tertentu yang dianugrahi wilayahini.

Salah seorang di antara mereka adalah Nabi Sulaiman a.s. Ia dianugrahi Allah misalnya, kemampuan mengatur perjalanan angin. "Maka Kami tundukkan angin untuknya yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya."(QS. 38:36) Demikian pula kekuatan yang diberikan Allah: "Berkatalah orang yang mempunyai ilmu dari Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia berkata : "Ini semua merupakan karunia Tuhanku." (QS. 27:40)

Tetapi wilayah ini tidak didapat oleh sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang telah mencapai kedudukan yang sangat dekat dengan Allah, yang dapat mencapainya. Tentu saja Rasulullah SAWW adalah orang yang paling utama dalam hal ini. Beliau memiliki wilayah tasharruf yang paling tinggi. Sesudah Rasulullah, para Imam suci Ahlul Bayt a.s. adalah orang-orang yang dianugrahi Allah wilayah ini. Oleh karena itu, maka Islam memerintahkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui orang-orang suci ini.

[oleh: Murtadha Muthahhari]

Tanah, Cahaya, Air, Angin Dan Api


Diriwayatkan dari ash-Shadiq as bahwasanya dia berkata,"Sesungguhnya yang pertama kali melakukan kias adalah Iblis. Iblis berkata,'Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Dan seandainya Iblis mengetahui apa yang diciptakan Allah bagi Adam, niscaya dia tidak akan membanggakan dirinya kepada Adam." Kemudian ash-Shadiq as berkata," Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan malaikat dari cahaya, menciptakan al-jann dari api, menciptakan jin (golongan al-jann) segolongan dari angin dan segolongan lagi dari air, dan menciptakan Adam dari permukaan tanah, kemudian Dia memasukkan cahaya, api, angin, dan air ke dalam tubuh Adam. Maka, dengan cahaya itulah Adam dapat melihat, memahami, dan mengerti; dengan api itulah dia dapat makan dan minum, dan seandainya bukan karena api di dalam perut (anak Adam), niscaya perut itu tidak akan dapat menggiling makanan; seandainya bukan karena angin di dalam perut anak Adam, niscaya api akan membakar perut; dan seandainya bukan karena air di dalam perut Adam yang memadamkan panasnya api, niscaya api itu akan membakar perut anak Adam. Maka Allah menghimpunkan semua itu dalam diri Adam dan pada diri Iblis terdapat lima elemen itu juga, lalu dia membanggakan dirinya dengannya."[5]



[5] Al-Ikhtishash, hal. 109, bab "Kias".

Akal Yang Tertinggi


Asy-Syami pernah bertanya kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as tentang orang pertama yang mengucapkan syair, Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib as menjawab,"(Orang yang pertama kali mengucapkan syair adalah) Adam. Ketika Adam diturunkan ke bumi dari langit, dia melihat tanahnya, kelapangannya, dan cuacanya, sampai Qabil membunuh Habil, Adam mengucapkan bait syair ini:


Berubahlah negeri dan semua yang ada atasnya,

wajah bumi tertutup debu nan jelek.

Berubah segala yang memiliki warna dan rasa,

dan berkuranglah keceriaan wajah yang senang.


Kemudian Iblis yang terkutuk bereaksi dengan syairnya;


Tersingkir sudah dari negeri dan penghuninya,

Jauh dari kekekalan menjadi sempit yang lapang.

Dahulu kau bersama pasanganmu menetap nyaman,

Sedang hatimu dari derita dunia aman.

Belum kau terkena tipu dan kejahatanku,

Hingga nilai tinggi akhirnya hilang darimu.

Sungguh jikalau rahmat Sang Kuasa tidak kau korbankan,

Pastilah udara surga abadi masih di genggam.


Diriwayatkan dari Abu Abdillah as, dia berkata,"Dahulu binatang-binatang liar, burung, binatang-binatang buas, dan segala sesuatu yang diciptakan Allah 'Azza wa jalla bergabung dan Saling berhubungan. Namun ketika Anak Adam (Qabil) membunuh saudaranya (Habil), maka mereka berlarian ketakutan satu sama lain, dan masing-masing hanya kembali kepada kawanannya."96


'Ilal asy-Syara'i', jil.2, hal. 267, bab 340 dengan nomor 2.

Pewangi Keimanan


Keadilan Ilahi dalam Al-Quran


Perlu ditegaskan bahwa dalam al-Quran al-Karim kata “al-adl” dan variannya tidak pernah digunakan dan dinisbahkan kepada Tuhan[6], akan tetapi, keadilan ilahi hanya digunakan semata-mata untuk menjelaskan “penafian kezaliman”, sebagai contoh sejumlah ayat menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah menzalimi hak–hak manusia. Allah Swt berfirman, “sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”[7]
Dan dalam sebagian ayat menjelaskan bahwa keadilan Tuhan memiliki lapangan yang lebih luas, “dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang juapun.”[8] Dan, “dan tiadalah Allah berkehendak untuk menzalimi dan menganiaya hamba-hambaNya.”[9]
Yang dimaksud dengan “al-alamin” disini mungkin seluruh makhluk yang berakal seperti manusia jin dan malaikat serta juga ada kemungkinan yang dimaksud adalah seluruh alam jagat raya, keadilan Ilahi batasannya lebih luas daripada hanya mengkhususkan kepada kelompok manusia saja. Dan sebagian ayat menjelaskan keadilan takwini Tuhan, “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang dianugerahi ilmu menyatakan bahaw tidak ada Tuhan melainkan Dia.”[10] [11]
Sejumlah ayat juga menjelaskan keadilan tasyri’i, “kami tidak membebani setiap jiwa kecuali ia mampu memikulnya.”[12] Dan, “katakanlah bahwa Tuhanku memerintahkanku untuk berbuat adil dan menjalankan keadilan.”[13]
Demikian pula halnya sejumlah ayat juga menegaskan dan menjadi saksi atas keadilan hukum Tuhan, “dan kami memasang timbangan yang tepat (keadilan) pada hari kiamat maka tak seorangpun dirugikan barang sedikitpun.”[14] Dan, “Dialah yang memulai penciptaan kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) untuk memberikan pembalasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dengan penuh adil.”[15] Dan, “Dan kami sekali-kali tidak akan mengazab sebuah kaum sebelum kami mengutus kepada mereka seroang rasul.”[16] Serta, “Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaiya diri mereka sendiri.”[17]
Ayat terakhir menjelaskan tentang azab-azab yang menimpa para pemimpin yang zalim dan al-Quran dengan meyebutkan akibat dari perbuatan mereka bahwa balasan dan siksa Tuhan bukanlah berarti Tuhan akan menzalimi mereka. Tetapi itu akibat dari perbuatan mereka sendiri, oleh karena itu, jika terjadi penganiayaan dan kezaliman di antara mereka pada hakikatnya mereka yang menzalimi dirinya sendiri.
Disamping ayat al-Quran banyak sekali hadis yang sampai ke tangan kita yang menjelaskan keadilan Tuhan, seperti hadis yang dinukil dari Rasullah Saw, “Langit dan bumi tercipta berdasarkan keadilan.”[18] Amirul mukminin As ketika menjawab pertanyaan seseorang tentang makna tauhid dan adil bersabda, “Tauhid adalah engkau tidak membayangkannya (menyerupakan dengan makhluk) dan adil adalah tidak menuduh dan menyangka sesuatu yang tidak layak untukNya.” Demikian juga ketika menyifati Allah Swt, beliau bersabda, “Allah tidak akan pernah mengzalimi hambanya dan menegakkan dan melaksanakan keadilan di antara makhluknya dan berlaku adil dalam pelaksanaan hukumnya.”[19]





[6] Barangkali tidak digunakan kata “adl” sesuai dengan makna yang dibahas dalam al-Quran karena “adl” terkadang bermakna “keluar dari jalan lurus” sebagaimana pada ayat pertama surah al-an’am bermakna syirik secara mutlak, artinya “orang –orang kafir mempersekutukan sesuatu dengan tuhan.”

[7] Qs. Yunus: 44.

[8] Qs. Al-kahfi: 49.

[9] Qs. Ali Imran: 108.

[10] Qs. Ali imran: 18.

[11] Dalam ayat ini, keadilan Ilahi dijelaskan secara mutlak , dengan demikian disamping sebagai bukti atas keadilan takwini Tuhan juga bisa dijadikan bukti untuk keadilan yang lain.

[12] Qs. Al-mukmin: 62.

[13] Qs. Al-a’raf: 29.

[14] Qs. Al-anbiya: 47.

[15] QsYunus: 4.

[16] Qs. Al-isra’: 15.

[17] Qs. At-taubah: 70 dan rum: 9.

[18] Faydz Kasyoni, Tafsir Shafy, hal. 628.

[19] Nahjul Balagha, khutbah 185.

Oh! Kekasih

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya. Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema.
Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam--yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.
Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): "Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya".
Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada
Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center "UNDER SIEGE" P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

Sumber: RausyanFikr's Site

Kurniaan Akal pada Manusia


Apakah Akal Menguasai Tuhan?

Sebagian orang mengatakan bahwa, dengan maksud menghentikan permasalahan ini, akal yang kita maksudkan bukan akal manusia, melainkan akal Tuhan sendiri yang memberitahunya untuk tidak melakukan hal yang tidak Dia kehendaki. Jadi Dia tidak dikuasai oleh makhluk ciptaan, tetapi oleh pikirannya sendiri. Jawaban ini dapat, hingga beerapa derajat, diterima oleh orang awam dan tampak meyakinkan. Namun, pada pemikiran yang lebih dalam, kita menyadari bahwa itu bukanlah jawaban yang tepat, pertama karena Tuhan adalah Zat yang sederhana yang di dalamnya tidak terdapat entitas yang disebut pikiran sehingga entitas lain dapat mematuhinya.
Pengetahuan, kekuatan, hidup dan semua Sifat Zat lainnya adalah Esensi-Nya juga zat tunggal dan sederhana dengan satu entitas tunggal saja. Namun, mengatakan bahwa pikirn Tuhan mengeluarkan perintah kepada-Nya akan berarti bahwa ada dua entitas dalam ZatNya: pikiran yang memerintah dan pikiran yang mematuhinya, sementara hal semacam itu mustahil terjadi terhadap Tuhan.
Selanjutnya, fungsi pikiran adalah untuk memahami konsep melalui pemerolehan pengetahuan. Pikiran yang memahami baik dan buruk, dan memerintahkan apa yang harus dilakukan dan yang tidak, adalah sebuah pikiran yang memahami konsep, dan konsep tersebut adalah konsep pengetahuan yang diperoleh, sementara pengetahuan Tuhan adalah intuitif, bukan pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, menggunakan kata “pikiran” sehubungan dengan Tuhan adalah sebuah kesalahan. Lalu, apa yang harus kita katakan?
Apakah maksudnya mengatakan bahwa perbuatan yang tidak disetujui oleh pikiran, mustahil dilakukan oleh Tuhan? Itu tidak berarti bahwa perbuatan itu sendiri mustahil, dan tidak berarti bahwa ada pengatur yang perintahnya harus dipatuhi oleh Tuhan, tidak juga bahwa ada kekuatan yang menghentikan perbuatan tersebut, karena dalam kasus tersebut, Tuhan akan diperngaruhi oleh faktor yang menghalangi perbuatanNya, mencegahnya dari berkehendak. Apapun faktor yang mungkin ada, itu berarti bahwa Tuhan berada di bawah pengaruh faktor tersebut, padahal Tuhan adalah Zat yang mustahil berada di bawah pengaruh dari pengaruh apapun. Sesungguhnya, Dialah yang memiliki pengaruh terhadap segala sesuatu, dan tidak akan pernah dipengaruhi.
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus mengkaji “kehendak”. Apa artinya mengatakan bahwa seseorang “berkehendak” melakukan sesuatu? Ketika ingin melakukan sesuatu perbuatan, bagaimana kita mengkehendakinya? Di dalam diri kita terdapat faktor-faktor yang menarik kita. Mereka mengkristal melalui keinginan kita dan berubah menjadi bentuk khusus, seperti keinginan untuk makan, berbicara, penegasan diri, dan pelbagai keinginan lainnya yang dikenal oleh manusia. Keinginan dan kecenderungan ini mengambil bentuk dalam kondisi dan interaksi material tertentu. Ketiak merasa lapar, sebuah keinginan kuat pada makanan muncul dalam diri kita. Hal yang bersama berlaku untuk keinginan2 kita yang lain yang berkaitan dengan pelbagai naluri kit ayang lain. Ketika keinginan mulai memasuki diri kita, kita memikirkannya untuk melihat apakah ada sesuatu yang mencegah kita dari memenuhinya dan bahwa ia tidak merugikan kita, di dunia ini atau pada hari akhir, baru setelah itu keinginan tersebut dapat dipuaskan. Dengan cara ini, kehendak kita dilaksnakan. Jadi, hakikat kehendak adalah keinginan batin yang terkristalkan, dalam kondisi teretentu, disertai oleh cara pemikiran biasa, dengan mengetahui kerugian dan keuntungannya, sisi baik dan jeleknya, dan lain. Dengan mengetahui bahwa ia menguntungkan dan tidak berbahaya, atau kerugiannya lebih kecil dari manfaatnya, ia mengambil bentuk menjadi keinginan yang membimbing pada pelaksnaannya. Jadi, mustahil terdapat kehendak tanpa adanya keinginan yang diharapkan oleh yang berkehendak.
Di dalam diri setiap wujud terdapat keinginan tertentu yang menyebabkan keinginan untuk memenuhinya. Misalnya, seekor ayam betina tidak berkehendak untuk melahirkan bayi2 dan tidak pernah memikirkan tentangnya [tentu saja, kita tidak mempunyai pengetahuan tentang pikiran seekor ayam, tapi hanya memperkirakan], atau burung pipit yang membangun sarangnya yang menempel pada atap atau di dekatnya, di koridor, dengan bentuk2 teretentu, tetapi tidak pernah berbentuk segi enam, bertentangan dengan lebah yang membangun sarangnya dengan bentuk segi enam.
Naluri khusus dalam makhluk2 ini muncul, di bawah kondisi tertentu dalam bentuk sebuah hasrat dan berakhir dalam pelaksanaan perbuatan. Kehendak kita juga berasal dari hasrat yang ada dalam batin kita, yaitu sesuai dengan keberadaan dan watak kejiwaan kita. Ada makhluk-makhluk yang hidup dengan makanan tertentu yang kita tidak pernah berhasrat mendapatkannya, bahkan, kita merasakan tolakan pada saat melihat makanan semacam itu untuk dimakan. Anda mungkin telah melihat babi-babi yang memakan kotorannya dan tidak menyukai makanan, dengan nafsu makan yang besar sedemikian rupa sehingga sangat menjijikkan bagi kita. Sebagian binatang lainnya merasakan bahwa sangat lezat memakan makanan yang busuk dan berbau tidak sedap.
Seandainya mengenal bahasa mereka, kita akan mendengar nada bibir mereka, yang mengatakan, “Betapa Lezatnya Makanan Ini!” sebaliknya, kita dipenuhi rasa muak melihat pemandangan tersebut. Kita tidak pernah berharap mendapatkan makanan seperti itu, meskipun makanan itu cocok dengan hewan2 tersebut. Mengapa kita tidak pernah berkehendak memakan makanan yang busuk, kotor, dan berbau tidak sedap, tidak juga melakukan perbuatan yang memalukan dan tercela? Karena ia tidak berada dalam keselarasan dengan wujud kita. Naluri kita tidak tertarik pada perbuatan-perbuatan semacam itu. Ada sebuah kehendak ketika ada dorongan, meskipun dorongan ini masih tetap samar-samar hingga kondisi tertentu diperoleh dan kehendak tersebut muncul. Jika merasa tidak ada kecenderungan terhadap sesuatu, kit tidak akan melakukannya, hal yang sama adalah kita tidak pernah berkehendak untuk berbagi makanan dengan seekor babi.
Oleh karena itu, tidak ada kehendak yang terjadi tanpa sebuah persiapan dan penyebab. Kehendak memiliki unsur naluriah, daya tarik batin, yang, dibawah kondisi tertentu, mengambil bentuk dan berubah menjadi sebuah hasrat, yang menyebabkan kita berkehendak melakukan sesuatu.
Secara singkat, tidak ada kehendak yang mungkin dilakukan tanpa adanya kesesuaian antara perbuatan tersebut dan pelakunya. Harus ada semacam kecocokan antara yang berkehendak dan sesuatu yang dia kehendaki. Kecocokan ini timbul dalam bentuk kecenderungan, yang, pada gilirannnya dan pada kondisi tertentu, berubah menjadi sebuah kehendak. Namun, sehubungan dengan Tuhan ketika kita mengatakan bahwa Dia, yang Mahaagung, berkehendak melakukan sesuatu, perbuatan tersebut harus pantas dilakukan olehNya. Namun, bukan berarti bahwa pertama-tama harus ada kecenderungan dalam diriNya, kemudian ia menjadi semakin kuat hingga menjadi hasrat, kemudian Dia mempertimbangkannya untuk menganggapnya sebaiknya dilakukan atau tidak, karena metode semacam ini menjadi milik sesuatu yang mungkin—sesuatu yang kurang informasi, lemah, miskin, dan lain-lain. Tuhan tidak dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dan faktor-faktor dari luar, atau dibawah pelbagai pengaruh, atau ketidak tahuan, sedemikian rupa sehingga Dia mungkin ingin memahami sesuatu dengan cara memikirkannnya. Gagasan ini tidak tepat sehubunagn dengan Tuhan.
Kehendak Tuhan dihubungkan dengan perbuatan yang sesuai dan cocok denganNya—sebuah kenyataan yang merupakan aspek kesempurnaanNya, artinya pelbagai kenyataan yang sempurna adalah aspek Kesempurnaan Mutlak Tuhan, karena Dia adalah Zat Sempurna Yang Tidak Terbatas. Segala sesuatu yang memiliki aspek kesempurnaan sebanding dengan Zat Tuhan, dna memperoleh keridhoaanNya dalam proporsi terhadap sejumlah kesempunaannya. Namun, mengenai aspek-aspek ketidaksempurnaan, kesalahan, cacat, sifat buruk, dan ketiadaan [yang seluruhnya sesungguhnya berasal dari ketiadaan], disebabkan oleh keberadaan mereka yang demikian, tidka dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan adalah sempurna, menyukai kesempurnaan, dan KehendakNya termasuk sesuatu yang memiliki aspek kesempurnaan. Tuhan tidak menyukai perbuatan buruk, dengan demikian, KehendakNya tidak pernah menyangkut perbuatan buruk. Mengapa? Karena hal itu tidak sesuai denganNya. Jawaban in imembuatnya jelas, mengapa Tuhan tidak berkehendak melakukan sesuatu. Hal ini karena sesuatu tersebut tidak memiliki aspek kesempurnaan. Jika memiliki aspek kesempurnaan, hal itu mungkin, disebabkan aspek tersebut, suatu perbuatan dikehendaki oleh Tuhan.[
]

Sebab Dan Musabab


Ketika mengatakan bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu, kita maksudkan bahwa jika menghendaki, Dia akan melakukannya, dan jika tidak, Dia tidak akan melakukannya. Jadi ketika membandingkan konsep kemampuan dengan konsep kehendak, kita menyadari bahwa segala kehendak lebih terbatas dibandingkan segala kemampuan.


Sebuah contoh sederhana: Anda dapat berbicara atau tetap diam pada suatu saat, artinya, Anda memiliki kemampuan untuk melakukan keduanya. Jika ingin berbicara, Anda akan berbicara dan jika tidak ingin berbicara, Anda akan tetap diam. Jadi, kekuatan Anda meliputi keduanya. Namun yang manakah yang akan Anda kehendaki? Anda menghendaki salah satu darinya. Anda menghendaki, baik untuk berbicara maupun tetap diam. Jadi, kekuatan Anda lebih luas daripada kehendak Anda, karena kemampuan meliputi, baik aksi maupun nonaksi, sementara kehendak hanya meliputi salah satu dari keduanya, baik aksi maupun nonaksi. Seseorang memmiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukannya pada waktu yang bersamaaa, tetapi dia tidak dapat menghendaki eksistensi dan noneksistensi dari sesuatu pada waktu yang sama. Jadi, jika membandingkan kemampuan dan kehendak, kita menyadari bahwa jangkauan kehendak lebih terbatas daripada jangkauan kemampuan.

Demikian juga, Tuhan tidak menghendaki semua yang dapat saja dilakukan-Nya. Pelbagai hal dapat dilakukan-Nya, tetapi Dia tidak ingin melaukannya. Di sini orang mungkin bertanya, apa yang membatasi kehendak Tuhan, sehingga dia tidak menghendaki segala sesuatu? Kadang kala terjadi bahwa kehendak tidak ada hubungannya dengan melakukan atau tidak melakukan perbuatan, karena alasan sederhana, bahwa meletakkan dua hal ini secara bersamaan akan menyebabkan kontradiksi dan sebuah kemustahilan, seperti menghendaki eksistensi matahari dan tidak adanya matahari pada waktu yang sama. Jelaslah bahwa hal seperti itu mustahil terjadi. Namun terdapat hal-hal lain yang, meskipun tidak mustahil, tidak Tuhan kehendaki. Mengapa? Apa yang menghalangi kehendak Tuhan dari menghendaki hal-hal tertentu?

Barangkali Anda pernah mendengar bahwa sebagian ilmuwan teologi mengatakan bahwa “Timbulnya perbuatan buruk dari Tuhan adalah mustahil” Hal ini tepat seperti apa yang telah kita katakan. Namun, pertanyaan pokoknya adalah “Apakah Tuhan tidak mampu menghasilkan perbuatan yang buruk?” Kita mengetahui bahwa kemampuan-Nya adalah tidak terbatas, dan bahwa Dia dapat melakukan apapun yang mungkin dilakukan. Namun tidak semua yang berada dalam kemampuannnya dikehendaki. Kehendak Tuhan tidak meliputi hal-hal tertentu. Dia tidak ingin melakukan perbuatan- perbuatan tertentu. Dia tidak ingin memasukkan orang yang melakukan kejahatan ke dalam surga. Mengapa? Jika Dia melakukannya, apa yang akan terjadi? Mengapa kehendak Tuhan tidak meliputi perbuatan ini? Banyak hal lain yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Jawaban sederhana yang dikemukakan sehubungan dengan hal ini adalh bahwa akal mengatakan perbuatan ini jahat, karenanya, Tuhan tidak ingin melakukan dan tidak menghendakinya. Tentu saja, tujuan yang nyata dapat muncul di sini: Apakah Tuhan menerima perintah dari akal? Akal merupakan salah satu makhluk-Nya; Apakah Dia menciptakannnya untuk mengeluarkan perintah kepadaNya, dan menulisksan daftar perintah kepadaNya?

Hasil Keimanan


Seseorang akan mengetahui pasti bahwa seluruh perbuatannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah., sembari meyakini pula bahwa tak satupon dari amal perbuatannya akan musnah, dan semua usahanya akan diganjar Allah dengan syurga dan 'ridhwan'(kerelaan Allah). Bahkan, sekalipon ia hanya memiliki niat semata dan tidak berusaha, Allah tetap akan menganugerahkan pahala dan ganjaran kepadanya. Seseorang yang mengetahui semua itu pasti akan menjalani kehidupan yang penuh semangat dan cinta.

Taufik


Sesuatu yang paling agung yang turun dari langit adalah taufik. dan sesuatu yang paling agung yang naik dari bumi adalah ikhlas. Dan sesuatu yang semua orang memerlukannya adalah taufik juga. Taufik adalah sebaik-baik penuntun.

MADZHAB CINTA

Dasar ajaran Islam adalah Cinta. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ““Agama adalah cinta dan cinta adalah agama” (Nur ats-Tsaqalain 5 : 285)
Para Imam Ahlul Bait sendiri menjadikan Cinta sebagai sebuah keyakinan agama.
Allah SwT berfirman, “Katakanlah (Hai Muhammad kepada manusia): ‘Jika kamu (benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah mencintaimu pula serta mengampuni dosa-dosamu” (al-Quran Surah 3 : 31)
Jika Anda benar-benar mencintai Allah maka ikutilah sunnah Rasulullah, ikutilah ajaran-ajaran beliau dan jangan Anda menyimpang dari sunnah Rasul-Nya!

Di dalam kitabnya Al-Kabir, Thabrany dan ar-Rafi’iy dan Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa senang hidup seperti hidupku dan mati seperti matiku, dan ingin mendapatkan Surga Eden yang dibangun Tuhanku, maka sepeninggalku hendaklah ia berwali (menjadikan pemimpin) kepada Ali dan hendaknya ia mengikuti pimpinan yang yang diangkat Ali dan meneladani para Ahlul Baitku. Mereka itu (Ahlul Baitku) adalah keturunanku. Mereka diciptakan dari darah dagingku dan dikarunia pemahaman dan ilmuku. Celakalah umatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui mereka. Allah tidak akan menurunkan syafa’at kepada orang-orang seperti itu!”

Misi Para Nabi

Misi para nabi ditujukan untuk menjaga agar perasaan manusia yang pada hakikatnya bersifat lembut tidak sampai dijejali berbagai modus kebohongan (kekeliruan). Sebagaimana seorang ibu pengasuh yang tidak akan pernah membiarkan seorang anak lapar-demi menghilangkan rasa laparnya-menyantap makanan secara sembarangan. Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang tidak berada di bawah bimbingan para nabi akan terjerumus ke dalam berbagai macam 'khurafat' (penyelewangan).

Kota Ilmu

Sayyidina 'Ali k.w. berkata: "Wahai manusia, bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku. Sesungguhnya aku ini lebih mengetahui jalan-jalan langit daripada jalan-jalan bumi. Bahkan, aku mengetahui sebelum bencana ini terjadi dan menghempaskan impian-impian umat ini."

Hawariyyun & Yesus


Tujuan utama pemberitaan Al-Kuran adalah untuk menceritakan kembali tentang pilihan yang telah diambil 'Hawariyyun' ketika dihadapkan pada suatu kondisi yang sangat sulit. Saat itu, 'Hawariyyun' telah diminta untuk menunjukkan komitmen iman dan kesetiaan di dalam merespon permintaan yang telah disampaikan oleh Isa as. Jawaban 'Hawariyyun' dalam Al-Kuran yang menyatakan:

...Para hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahawa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.
Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan-golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). (QS. Ali 'Imran: 52-53)

Membuktikan bahwa Al-Kuran sebenarnya membantah tuduhan kitab-kitab Injil yang menyatakan bahwa murid-murid Yesus telah kabur pada saat Yesus memerlukan bantuan mereka.

Injil Meriwayatkan:

Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. (Markus 14: 50)

Tapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. (Matius 26: 56)

Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. (Yohanes 16: 32)

Sedangkan mengenai pengkhianatan Yudas Iskariot, kitab-kitab Injil meriwayatkan:

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.

Ia berkata:" Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh wang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. (Matius 26: 14-16)

Kata 'hawariyyun' dalam Al -Kuran sebenarnya tidak terkait dengan hal-hal yang bersifat materialistik (menerangkan pakaian atau latar sosial mereka), tapi untuk menjelaskan kembali tentang kepribadian mereka yang suci dan bersih dari segala tuduhan umat Yahudi dan Kristian. Kata 'Hawariyyun' yang berasal dari akar kata 'Huur' sebenarnya pernah disebut dalam Al-Kuran ketika menjelaskan tentang keindahan dari pasangan hidup manusia di surga seperti pada pernyataan firman Allah berikut :

Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. (QS. ad-Dukhan: 54)

Bidadari-bidadari yang jelita,puteh bersih dipinggit dalam rumah. (QS. ar-Rahman: 72)

Kata 'Huur' pada ayat di atas sebenarnya tidak pernah ditujukan untuk menerangkan tentang uraian-uraian fisik dari pasangan hidup manusia di syurga. kata 'Huur' adalah penjelasan tentang sifat dan kondisi pasangan-pasangan hidup manusia di syurga yang sangat berbeda dari cara pandang serta pemahaman manusia tentang keindahan yang disediakan oleh Allah di dalamnya. Syurga adalah tempat yang disucikan Allah, maka segala makhluk yang ada di dalamnya adalah suci dalam erti yang sebenar.

Akal dan syurga

Manusia, dalam pandangan islam, selalu dikaitkan dengan suatu kisah tersendiri. Di dalamnya, manusia tidak semata-mata digambarkan sebagai haiwan tingkat tinggi yang berkuku pipih, berjalan dua kaki, dan pandai berbicara. Lebih dari itu, menurut Al Kuran, manusia lebih luhur dan ghaib daripada apa yang dapat didefinasikan oleh kata-kata tersebut.
Dalam Al Kuran, manusia berulang-ulang diangkat derajatnya, berulang-ulang pula direndahkan. Mereka dinobatkan jauh mengungguli alam syurga, bumi, dan bahkan para malaikat; tetapi, pada saat yang sama, mereka bisa tak lebih beerti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahanam sekalipon. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi "yang paling rendah dari segala yang rendah". Oleh karena itu, makhluk manusia sendirilah yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri.

Injil Barnabas

Dan karena ucapan mereka: " Sesungguhnya Kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah"' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikut persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(QS. an-Nisa': 157)

Sebahagian 'mufassirin'[5] Islam telah menafsirkan Al-Kuran dengan mengkonfirmasikan tuduhan serupa, iaitu dengan mengatakan bahwa Yudas Iskariot (salah seorg dari 12 orang murid(hawariyyun) Isa a.s-penterjemah) adalah pengkhianat. Menurut mereka, argumen ini telah diperkuatkan dengan ditemukannya sebuah dokumen kuno yang disebut Injil Barnabas yang penyusunnya mengaku sebagai salah sorang dari dua belas murid pilihan Yesus, tapi sesuai dengan persaksian dalam injilnya sendiri bahwa dia sebenarnya "bukan seorang saksi mata" pada saat peristiwa itu terjadi:

  • Tapi aku tidak mengetahui apa yang terjadi atas diri Yudas, karena aku tidak menyaksikan segala sesuatunya. (Barnabas 221: 4)

[5] Ibnu Katsir, Tafsir 2: 431; Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir 12:100; Sayid Qutb, Fi Zilalil Qur'an 6:18.

Akal dan Hati


"Aku Kehilangan iman kerana tiga sebab:



  1. Aku suka mengadu domba/memfitnah. Aku mengatakan kepada teman-temanku berlainan dengan yang aku katakan kepada tuan.

  2. Aku mendengki dan iri hati terhadap teman-temanku.

  3. Ketika sakit, aku pergi ke doktor untuk menanyakan penyakitku. Kemudian, doktor memberikan resepi, agar aku meminum arak setiap tahun bagai obat. Kata doktor, jika aku tidak meminumnya, penyakitku tidak akan sembuh. Kerana itu aku meminum arak."


Jiwa Manusia

Al-Quran menyebutkan jiwa manusia sbagai suatu sumber khas pengetahuan. Menurut Al-Quran, seluruh alam raya ini merupakan manifestasi Allah. Di dalamnya terdapat tanda-tanda serta berbagai bukti untuk mencapai kebenaran. Al-Quran mendefinasikan dunia eksternal sebagai al-ayat dan dunia internal sebagai jiwa; dan dengan cara ini mengingatkan kita akan pentingnya jiwa manusia. Ungkapan, tanda-tanda, dan jiwa-jiwa itu di dalam kepustakaan Islam bersumber dari pernyataan berikut:

Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami dari yang terbentang di horizon ini dan dari jiwa mereka sndiri, sehingga tahulah mereka akan kebenaran itu. (Fushshilat [41]: 53)

Kant, filosof Jerman itu, dalam salah satu pernyataan yang tersohor dan dipahatkan dalam batu nisannya, berkata: "ada dua hal yang memenuhi pikiran dengan keajaiban yang senantiasa bertambah dan yang semakin sering menarik pikiran ke arahnya: langit yang bertabur bintang di atasku dan hukum moral dalam hatiku."

Bukan Manusia Biasa


Anda bisa menyebutnya Yesus atau Isa. Anda berhak menggelarinya Messiah, Kristus atau al-Masih. Anda bebas untuk meyakininya diangkat ke langit maupun disalib. Itu terserah Anda. Yang jelas, putra Sang Perawan ini benar-benar 'luar biasa' karena menjadi 'sengketa abadi' yang diperebutkan oleh dua agama besar. Ia diperebutkan bukan karena benturan cinta dan benci, namun karena ia muara cinta yang berlainan arah. Sang Gembala dari Nazareth ini, karena mampu menghidupkan orang mati,me-melek-kan buta dan menghapus kusta, diyakini sebagai 'Roh Tuhan' atau 'anak'-Nya. Kita tidak mengajak Anda berpindah agama, tapi hanya mengajak Anda untuk tidak memandang Yesus dan Maryam yang melahirkannya sebagai manusia biasa.


"Salam sejahtera atasnya pada hari kelahiran, hari wafat dan hari dibangkitkan hidup"

Simpulan Makrifat

Kasadaran Kemanusiaan

Istilah ini berarti kasadaran akan diri seseorg dlm kaitannya dengan seluruh umat manusia. Ia ditanamkan ataz dasar prinsip bahwa seluruh manusia mbentuk satu kesatuan faktual dan mereka semua mmiliki satu 'nurani insani bersama'---- filantropi dan ras kemanusiaan merupakan hal yg pasti ada pada diri seluruh insan. sa'adi berkata:

Anak-anak Adam laksana anggota tubuh;
Sebab mereka tercipta dari lempung yang sama.
Jika satu bagian telanda lara,
Yang lain menderita resah hebat.
Engkau yang lain ingkar derita manusia,
Tak pantas bernama "manusia"


Photobucket

Manusia Dan Agama

Dunia kita adalah dunia perubahan dan pergantian, tak ada ssuatu yg tetap d dalamnya. Segalanya akan snantiasa berubah, memudar, dan setelah itu mati.Seperti itu pulakah agama? Adakh kurun ttentu bagi agama sehingga, jika ia tlah lewat, usia agama pon akan berakhir? Ataukah keadaannya tdak spt itu? Akankh ia ttap lestari di tengah-tengah manusia sehingga seandainya muncul gerakan yang mmerangi ataupn brusaha mghabisinya, gerakan spt itu psti tdk akan bhasil? Bahkan, agamalah yg tetap hidup, tak terpadamkan, dan tetap berdetak, lalu muncul lg dn menyatakan khadirannya dalam bbagai rupa lain, segera stelah itu?

Will Durant, penulis yg tdak pcaya kpd agama mana pun, mngatakn dlm bahasannya mengenai sjarah dan agama:" Agama mmiliki seratus jiwa. Sgala ssuatu jka tlah d bunuh pd kali ptama itu pun ia sdah mati utk slama2nya, kecuali agama. Skiranya ia sratus kali d bunuh, ia akan mncul lagi dn kmbali hdup stelah itu."

be continue-

DOA KESELAMATAN

اَللّهُمَّ ارْزُقْناَ تَوْفِيْقَ اَلطَّاعَةِ وَبُعْدَ الْمَعْصِيَّةِ وِصِدْقَ الْنِيَّةِ وَعِرْفَانَ الْحُرْمَةِ وَاكْرِمْناَ بِالْهُدَىْ وَالإسْتِقَامَةِ وِسَدِّدْ أَلْسِتَناَ بِالصَّوَابِ وَاْلحِكْمِةِ وَامْلأْ قُلُوْبَناَ بِالْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ وَطَهِّرْ بُطُوْنَناَ منَ الْحَرَاْمِ وَالْشُّبْهَةِ وَاكْفُفْ أَيْدِيَناَ عَنِ الْظُّلْمِ وَالْسِّرْقَةِ وَاغْضُضْ أَبْصَآرَناَ عَنِ اْلفُجُوْرِ وَالْخِياَنَةِ وِاسْدُدْ أَسْمَآعَناَ عَنِ الَّلغْوِ وَاْلغِيْبَةِ وَتَفَضَّلْ عَلَى عُلَمَآئِنَا بِالزُّهْدِ وَالنَّصِيْحَةِ وِعَلَى الْمُتَعَلِّمِيْنَ بِالْجُهْدِ وَالرَّغْبَةِ وَعَلَى الْمُسْتَمِعِيْنَ بِالإِتِّباَعِ وَالْمَوْعِظَةِ وَعَلَى مَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ بِالشِّفَآءِ وَالرَّحَةِ وَعَلَى مَوْتاَهُمْ بِالرَّافَةِ وَالرَّحْمَةِ وَعَلَى مَشاَيِخِناَ بِالوِقَارِ وَالسِّكيْنَةِ وَعَلَى الشَّباَبِ بِالإناَبَةِ وَالتَّوْبَةِ وَعَلَى النِسَآءِ بِالحَيآءِ وَالعِفَّةِ وَعَلى الأَغنيِاءِ بِالتَوَاضُعِ وَالسَّعَةِ وَعَلَى الفُقَرَآءِ بِالصَبْرِ وَالقَناَعَةِ وَعَلَى الغُزَاةِ بِالنَصْرِ واَلغَلبَة وَعَلى الأُسرَآءِ بِالخَلاَصِ وَالرَّاحَة وَعَلَى الأُمَرَآء بِالعَدْلِ وَالشَفَقَة وَعَلَى الرَعِيَّةِ بِالإِنْصَافِ وَحُسْنُ الِسيْرَةِ وَبَارِكْ لِلْحُجَّاجِ وَالزُّوَارِ فِيْ الزاَّدِ وَالنفَقَةِ وَاقْضَ مَآ أَوْجَبَتْ عَلَيْهِمْ مِنَ الحَجِّ وَالعُمْرَةِ بِفَضْلِكَ وَ رَحمتكَ يآأَرحَمَ الرَّحمين وَ صَلَّى الله عَلَى سيّدنَا مُحَمَّد وَعَلَى آله الطَآهرين وَ صَحْبِهِ الأَخيَار وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَآلمِيْن.



Ya Allah, karuniakan pada kami kemudahan untuk taat, menjauhi maksiat,ketulusan niat, dan mengetahui kemuliaan.. Muliakan kami dg hidayah dan istiqomah.. Luruskan lidah kami dg kebenaran dan hikmah.. Penuhi hati kami dg ilmu dan makrifat.. Bersihkanlah perut kami dari haram dan syubhat, Tahanlah tangan kami dari kezaliman dan pencurian.. Tundukkanlah pandangan kami dari kemaksiatan dan penghianatan.. Palingkanlah pendengaran kami dari ucapan yg sia-sia dan umpatan.. Karuniakanlah kepada ulama kami kezuhudan dan nasihat.. Pada para pelajar kesungguhan dan semangat.. Pada para pendengar kepatuhan dan kesadaran.. Pada kaum muslimin yg sakit,kesembuhan dan ketenangan.. Pada kaum muslimin yg meninggal,kasih sayang dan rahmat.. Pada orang-orang tua kami kehormatan dan ketentraman.. Pada para pemuda kembali (pada jalan Allah) dan taubah.. Pada para wanita rasa malu dan kesucian.. Pada orang-orang kaya rendah hati dan kemurahan.. Pada para pejuang kemengangan dan penaklukan.. Pada para tawanan kebebasan dan ketenangan.. Pada para pemimpin keadilan dan rasa sayang.. Pada seluruh rakyat kejujuran dan kebaikan akhlak.. Berkatilah pada jemaah haji dan para penziarah dalam bekal dan nafkah.. Sempurnakanlah haji dan umrah yang Engkau tetapkan bagi mereka.. dengan karunia dan rahmat-Mu. Wahai Yang Paling Pengasih dari semua yg mengasihi.