Laailahaillallah Muhammad Rasulullah Amirul Mukminin Waliyullah

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Antara Muhammad dan Ibrahim


Segera Yahudi itu menimpali, “Lihatlah Nabi Ibrahim As, karena dia telah menge­tahui Allah SWT dengan perenungan (i’tibar). Pembuktiannya telah meliputi keimanan ter­hadap-Nya.”
Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad Saw telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah Swt dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim As. Namun, Nabi Ibrahim As mengenal Allah da­lam usia lima belas tahun sementara Nabi Saw mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Per­nah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa.’ Sebagian dari mereka melihatnya, Muhammad Saw lalu mereka menge­tahui sifat, karakter, dan berita akan kebang­kitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.
Para pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhammad Saw “Wahai bocah, siapa na­mamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Me­reka bertanya, “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab, “Abdullah.” Mereka bertanya, “Apa nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”
Mereka bertanya, “Apa nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit)?” Beliau men­jawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab, “Allah.” Lalu Muhammad Saw menyen­tak mereka, “Apakah kalian meragukanku ten­tang Allah Swt? Celaka kamu, wahai Yahu­di.”
Muhammad telah mengetahui Allah dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah dan menyembah patung-patung, tetapi beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”
Dinukil dari Musa bin Ja’far, dari ayahnya Ja’far Shadiq, dari ayah-ayahnya, dari al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dikatakan bahwa seorang Yahudi dari Syam pemah membaca Taurat, Zabur, Injil dan kitab-­kitab para nabi As, di samping itu ia juga banyak mengetahui argumentasi mereka. Suatu hari orang ini datang ke sebuah majelis para sahabat Rasulullah Saw di antara mereka ada Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Abu Ma’bad al-Juhani.
“Wahai umat Muhammad, kalian tidak tinggalkan satu derajat atau satu keistimewaan yang ada pada seorang nabi melainkan kalian berikan pula pada nabi kalian,” ujarnya. Lalu Yahudi itu bertanya, “Apakah kalian akan men­jawab pertanyaan-pertanyaanku ini?”
“Benar,” jawab Ali “Tidaklah Allah SWT memberikan suatu derajat dan keis­timewaan kepada seorang nabi atau rasul me­lainkan Allah berikan juga semuanya kepada Nabi Muhammad Saw, bahkan Dia melebih­kannya atas para nabi berlipat ganda.”
“Apakah Anda siap menjawab pertanyaan­ku?” tanyanya.
Ali menjawab, ‘Ya.’ Akan aku sebut di hadapanmu sekarang juga tentang keistimewaan Muhammad sehingga kaum Muslimin bersorak ceria dan orang-orang ragu-ragu tidak akan menyangsikannya lagi. Dan Rasulullah Saw pada saat menyebutkan keistimewaan dirinya beliau selalu berkata, “tidak bermaksud berbangga” (wa la fakhr).” Dan aku akan menyebutkan keistimewaan-keistimewaan beliau tanpa menjatuhkan dan mengurangi kedudukan para nabi As. Namun, sekedar untuk mensyukuri Allah Swt atas anugerah yang Dia berikan kepada Muhammad seperti yang diberikan kepada para nabi bahkan Allah Swt melebihkan beliau.”
Segera Yahudi itu menimpali, “Lihatlah Nabi Ibrahim As, karena dia telah menge­tahui Allah SWT dengan perenungan (i’tibar). Pembuktiannya telah meliputi keimanan ter­hadap-Nya.”
Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad Saw telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah Swt dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim As. Namun, Nabi Ibrahim As mengenal Allah da­lam usia lima belas tahun sementara Nabi Saw mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Per­nah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa.’ Sebagian dari mereka melihatnya, Muhammad Saw lalu mereka menge­tahui sifat, karakter, dan berita akan kebang­kitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.
Para pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhammad Saw “Wahai bocah, siapa na­mamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Me­reka bertanya, “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab, “Abdullah.” Mereka bertanya, “Apa nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”
Mereka bertanya, “Apa nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit)?” Beliau men­jawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab, “Allah.” Lalu Muhammad Saw menyen­tak mereka, “Apakah kalian meragukanku ten­tang Allah Swt? Celaka kamu, wahai Yahu­di.”
Beliau telah mengetahui Allah dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah clan menyembah patung-patung, tetapi beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim As telah terhijabi dari mata Namrud sebanyak tiga kali.”
Ali berkata, “Ya benar. Namun Nabi Muhammad Saw telah terhijabi dari mata orang-orang yang hendak membunuhnya seba­nyak lima kali. Sama tiga jumlahnya dengan hijab yang dipasang untuk Namrud dan bah­kan lebih dua.
Kelima hijab yang dimaksud adalah ketika Allah di hadapan mereka, adalah hijab (penutup) yang pertama. “Dan dari belakang mereka, ” adalah hijab yang kedua. Lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat, (Qs. Yasin [36]:9) adalah hijab yang ketiga. Hijab yang keempat adalah firman Allah Swt yang menegaskan, Dan jiku kamu membaca Al-Qur’an, Kami jadikan di antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman dengan akhirat sebuah hijab yang menutupi, (Qs. al-Isra’ [17]: 45)
Sedangkan hijab yang kelima adalah firman Allah Swt yang berbunyi, Sesungguhnya Kami telah memasang be­lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu me­reka tertengadah. (Qs. Yasin [36]:
Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Ibrahim As telah membungkam mulut orang ka­fir dengan kenabiannya.”
Ali berkata, “Benar! Pernah Nabi Muhammad Saw didatangi orang yang men­dustakan hari kebangkitan setelah kematian, orang itu adalah Ubai bin Khalaf al-Jumahi, dia membawa tulang yang hancur lalu berkata, “Wahai Muhammad, siapakah yang akan meng­hidupkan kembali tulang belulang ini padahal sudah hancur?” Lalu Allah menurunkan atas Muhammad sebuah ayat yang membungkam mulut orang itu, Yang akan menghidupkannya kembali ada­lah Yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui akan segala sesuatu. (QS. Yasin [36]: 79)
Akhirnya orang itu diam seribu basa dan berlalu dari tempat itu. Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim telah menghancurkan patung-patung kaumnya dengan marah karena Allah Swt.”
Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad Saw telah merobohkan tiga ratus enam puluh patung di dalam Ka’bah dan mem­bersihkan semenanjung Arabia dari patung-pa­tung serta mengalahkan orang-orang yang me­nyembah patung dengan pedang.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim As pernah dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api, tetapi dia pasrah dan sabar, akhirnya Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan­nya. Apakah Allah berbuat yang sama terhadap Muhammad?”
Ali berkata, “Ya benar. Ketika Nabi Muhammad pergi ke Khaibar, seorang wanita Khaibar meracuninya, tetapi Allah men­jadikan racun itu dingin (tidak bereaksi) di da­lam perutnya sampai akhir ajalnya. Padahal racun itu, jika berada di dalam perut akan mem­bakar seperti api membakar. Itu adalah kekua­saan-Nya, janganlah kamu mengingkarinya.” [Sumber: www.wisdoms4all.com]

DOA KESELAMATAN

اَللّهُمَّ ارْزُقْناَ تَوْفِيْقَ اَلطَّاعَةِ وَبُعْدَ الْمَعْصِيَّةِ وِصِدْقَ الْنِيَّةِ وَعِرْفَانَ الْحُرْمَةِ وَاكْرِمْناَ بِالْهُدَىْ وَالإسْتِقَامَةِ وِسَدِّدْ أَلْسِتَناَ بِالصَّوَابِ وَاْلحِكْمِةِ وَامْلأْ قُلُوْبَناَ بِالْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ وَطَهِّرْ بُطُوْنَناَ منَ الْحَرَاْمِ وَالْشُّبْهَةِ وَاكْفُفْ أَيْدِيَناَ عَنِ الْظُّلْمِ وَالْسِّرْقَةِ وَاغْضُضْ أَبْصَآرَناَ عَنِ اْلفُجُوْرِ وَالْخِياَنَةِ وِاسْدُدْ أَسْمَآعَناَ عَنِ الَّلغْوِ وَاْلغِيْبَةِ وَتَفَضَّلْ عَلَى عُلَمَآئِنَا بِالزُّهْدِ وَالنَّصِيْحَةِ وِعَلَى الْمُتَعَلِّمِيْنَ بِالْجُهْدِ وَالرَّغْبَةِ وَعَلَى الْمُسْتَمِعِيْنَ بِالإِتِّباَعِ وَالْمَوْعِظَةِ وَعَلَى مَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ بِالشِّفَآءِ وَالرَّحَةِ وَعَلَى مَوْتاَهُمْ بِالرَّافَةِ وَالرَّحْمَةِ وَعَلَى مَشاَيِخِناَ بِالوِقَارِ وَالسِّكيْنَةِ وَعَلَى الشَّباَبِ بِالإناَبَةِ وَالتَّوْبَةِ وَعَلَى النِسَآءِ بِالحَيآءِ وَالعِفَّةِ وَعَلى الأَغنيِاءِ بِالتَوَاضُعِ وَالسَّعَةِ وَعَلَى الفُقَرَآءِ بِالصَبْرِ وَالقَناَعَةِ وَعَلَى الغُزَاةِ بِالنَصْرِ واَلغَلبَة وَعَلى الأُسرَآءِ بِالخَلاَصِ وَالرَّاحَة وَعَلَى الأُمَرَآء بِالعَدْلِ وَالشَفَقَة وَعَلَى الرَعِيَّةِ بِالإِنْصَافِ وَحُسْنُ الِسيْرَةِ وَبَارِكْ لِلْحُجَّاجِ وَالزُّوَارِ فِيْ الزاَّدِ وَالنفَقَةِ وَاقْضَ مَآ أَوْجَبَتْ عَلَيْهِمْ مِنَ الحَجِّ وَالعُمْرَةِ بِفَضْلِكَ وَ رَحمتكَ يآأَرحَمَ الرَّحمين وَ صَلَّى الله عَلَى سيّدنَا مُحَمَّد وَعَلَى آله الطَآهرين وَ صَحْبِهِ الأَخيَار وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَآلمِيْن.



Ya Allah, karuniakan pada kami kemudahan untuk taat, menjauhi maksiat,ketulusan niat, dan mengetahui kemuliaan.. Muliakan kami dg hidayah dan istiqomah.. Luruskan lidah kami dg kebenaran dan hikmah.. Penuhi hati kami dg ilmu dan makrifat.. Bersihkanlah perut kami dari haram dan syubhat, Tahanlah tangan kami dari kezaliman dan pencurian.. Tundukkanlah pandangan kami dari kemaksiatan dan penghianatan.. Palingkanlah pendengaran kami dari ucapan yg sia-sia dan umpatan.. Karuniakanlah kepada ulama kami kezuhudan dan nasihat.. Pada para pelajar kesungguhan dan semangat.. Pada para pendengar kepatuhan dan kesadaran.. Pada kaum muslimin yg sakit,kesembuhan dan ketenangan.. Pada kaum muslimin yg meninggal,kasih sayang dan rahmat.. Pada orang-orang tua kami kehormatan dan ketentraman.. Pada para pemuda kembali (pada jalan Allah) dan taubah.. Pada para wanita rasa malu dan kesucian.. Pada orang-orang kaya rendah hati dan kemurahan.. Pada para pejuang kemengangan dan penaklukan.. Pada para tawanan kebebasan dan ketenangan.. Pada para pemimpin keadilan dan rasa sayang.. Pada seluruh rakyat kejujuran dan kebaikan akhlak.. Berkatilah pada jemaah haji dan para penziarah dalam bekal dan nafkah.. Sempurnakanlah haji dan umrah yang Engkau tetapkan bagi mereka.. dengan karunia dan rahmat-Mu. Wahai Yang Paling Pengasih dari semua yg mengasihi.