Laailahaillallah Muhammad Rasulullah Amirul Mukminin Waliyullah

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Powered By Blogger

Antara Muhammad dan Ibrahim


Segera Yahudi itu menimpali, “Lihatlah Nabi Ibrahim As, karena dia telah menge­tahui Allah SWT dengan perenungan (i’tibar). Pembuktiannya telah meliputi keimanan ter­hadap-Nya.”
Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad Saw telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah Swt dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim As. Namun, Nabi Ibrahim As mengenal Allah da­lam usia lima belas tahun sementara Nabi Saw mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Per­nah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa.’ Sebagian dari mereka melihatnya, Muhammad Saw lalu mereka menge­tahui sifat, karakter, dan berita akan kebang­kitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.
Para pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhammad Saw “Wahai bocah, siapa na­mamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Me­reka bertanya, “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab, “Abdullah.” Mereka bertanya, “Apa nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”
Mereka bertanya, “Apa nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit)?” Beliau men­jawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab, “Allah.” Lalu Muhammad Saw menyen­tak mereka, “Apakah kalian meragukanku ten­tang Allah Swt? Celaka kamu, wahai Yahu­di.”
Muhammad telah mengetahui Allah dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah dan menyembah patung-patung, tetapi beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”
Dinukil dari Musa bin Ja’far, dari ayahnya Ja’far Shadiq, dari ayah-ayahnya, dari al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dikatakan bahwa seorang Yahudi dari Syam pemah membaca Taurat, Zabur, Injil dan kitab-­kitab para nabi As, di samping itu ia juga banyak mengetahui argumentasi mereka. Suatu hari orang ini datang ke sebuah majelis para sahabat Rasulullah Saw di antara mereka ada Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Abu Ma’bad al-Juhani.
“Wahai umat Muhammad, kalian tidak tinggalkan satu derajat atau satu keistimewaan yang ada pada seorang nabi melainkan kalian berikan pula pada nabi kalian,” ujarnya. Lalu Yahudi itu bertanya, “Apakah kalian akan men­jawab pertanyaan-pertanyaanku ini?”
“Benar,” jawab Ali “Tidaklah Allah SWT memberikan suatu derajat dan keis­timewaan kepada seorang nabi atau rasul me­lainkan Allah berikan juga semuanya kepada Nabi Muhammad Saw, bahkan Dia melebih­kannya atas para nabi berlipat ganda.”
“Apakah Anda siap menjawab pertanyaan­ku?” tanyanya.
Ali menjawab, ‘Ya.’ Akan aku sebut di hadapanmu sekarang juga tentang keistimewaan Muhammad sehingga kaum Muslimin bersorak ceria dan orang-orang ragu-ragu tidak akan menyangsikannya lagi. Dan Rasulullah Saw pada saat menyebutkan keistimewaan dirinya beliau selalu berkata, “tidak bermaksud berbangga” (wa la fakhr).” Dan aku akan menyebutkan keistimewaan-keistimewaan beliau tanpa menjatuhkan dan mengurangi kedudukan para nabi As. Namun, sekedar untuk mensyukuri Allah Swt atas anugerah yang Dia berikan kepada Muhammad seperti yang diberikan kepada para nabi bahkan Allah Swt melebihkan beliau.”
Segera Yahudi itu menimpali, “Lihatlah Nabi Ibrahim As, karena dia telah menge­tahui Allah SWT dengan perenungan (i’tibar). Pembuktiannya telah meliputi keimanan ter­hadap-Nya.”
Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad Saw telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah Swt dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim As. Namun, Nabi Ibrahim As mengenal Allah da­lam usia lima belas tahun sementara Nabi Saw mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Per­nah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa.’ Sebagian dari mereka melihatnya, Muhammad Saw lalu mereka menge­tahui sifat, karakter, dan berita akan kebang­kitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.
Para pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhammad Saw “Wahai bocah, siapa na­mamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Me­reka bertanya, “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab, “Abdullah.” Mereka bertanya, “Apa nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”
Mereka bertanya, “Apa nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit)?” Beliau men­jawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab, “Allah.” Lalu Muhammad Saw menyen­tak mereka, “Apakah kalian meragukanku ten­tang Allah Swt? Celaka kamu, wahai Yahu­di.”
Beliau telah mengetahui Allah dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah clan menyembah patung-patung, tetapi beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim As telah terhijabi dari mata Namrud sebanyak tiga kali.”
Ali berkata, “Ya benar. Namun Nabi Muhammad Saw telah terhijabi dari mata orang-orang yang hendak membunuhnya seba­nyak lima kali. Sama tiga jumlahnya dengan hijab yang dipasang untuk Namrud dan bah­kan lebih dua.
Kelima hijab yang dimaksud adalah ketika Allah di hadapan mereka, adalah hijab (penutup) yang pertama. “Dan dari belakang mereka, ” adalah hijab yang kedua. Lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat, (Qs. Yasin [36]:9) adalah hijab yang ketiga. Hijab yang keempat adalah firman Allah Swt yang menegaskan, Dan jiku kamu membaca Al-Qur’an, Kami jadikan di antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman dengan akhirat sebuah hijab yang menutupi, (Qs. al-Isra’ [17]: 45)
Sedangkan hijab yang kelima adalah firman Allah Swt yang berbunyi, Sesungguhnya Kami telah memasang be­lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu me­reka tertengadah. (Qs. Yasin [36]:
Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Ibrahim As telah membungkam mulut orang ka­fir dengan kenabiannya.”
Ali berkata, “Benar! Pernah Nabi Muhammad Saw didatangi orang yang men­dustakan hari kebangkitan setelah kematian, orang itu adalah Ubai bin Khalaf al-Jumahi, dia membawa tulang yang hancur lalu berkata, “Wahai Muhammad, siapakah yang akan meng­hidupkan kembali tulang belulang ini padahal sudah hancur?” Lalu Allah menurunkan atas Muhammad sebuah ayat yang membungkam mulut orang itu, Yang akan menghidupkannya kembali ada­lah Yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui akan segala sesuatu. (QS. Yasin [36]: 79)
Akhirnya orang itu diam seribu basa dan berlalu dari tempat itu. Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim telah menghancurkan patung-patung kaumnya dengan marah karena Allah Swt.”
Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad Saw telah merobohkan tiga ratus enam puluh patung di dalam Ka’bah dan mem­bersihkan semenanjung Arabia dari patung-pa­tung serta mengalahkan orang-orang yang me­nyembah patung dengan pedang.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim As pernah dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api, tetapi dia pasrah dan sabar, akhirnya Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan­nya. Apakah Allah berbuat yang sama terhadap Muhammad?”
Ali berkata, “Ya benar. Ketika Nabi Muhammad pergi ke Khaibar, seorang wanita Khaibar meracuninya, tetapi Allah men­jadikan racun itu dingin (tidak bereaksi) di da­lam perutnya sampai akhir ajalnya. Padahal racun itu, jika berada di dalam perut akan mem­bakar seperti api membakar. Itu adalah kekua­saan-Nya, janganlah kamu mengingkarinya.” [Sumber: www.wisdoms4all.com]

Cintailah AKU (kitab zabur)


Wahai Dawud!


Sampaikanlah kpd penduduk bumi bahwa AKU adalah kekasih orang-orang yang mencintai AKU


AKU adalah teman duduk bagi orang-orang yang mengajak AKU duduk.


AKU adalah penyantun bagi orang-orang yang santun dg mengingat-KU..


AKU adalah sahabat bagi orang yang bersahabat dengan-KU..


AKU adalah pilihan bagi orang yg memilih-KU...


AKU patuh kepada orang yg mematuhi-KU..


Seorang hamba yang mencintai AKU,


dan KU-ketahui itu benar-benar berangkat dari keyakinan hatinya,


pastilah AKU menerimanya untuk diri-KU..


AKU pun mencintai dia dengan cinta yg tidak pernah diterima oleh seorang makhluk pun.


Siapa saja yang mencari AKU dengan sungguh-sungguh maka ia pasti menemukan AKU.....


Wahai penduduk bumi !


Apa yang telah membuatmu tertipu...


bergegaslah menuju kemuliaan-KU..


menemani-KU dan duduk bersama-KU..


Beramah tamahlah dengan-KU,


niscaya AKU-pun beramah tamah denganmu dan secepatnya mencintaimu..


AKU menciptakan hati orang-orang yg merindukan-KU dari cahaya-KU,


dan aku menganugerahi mereka keagungan-KU."


Rasulullah saw bersabda,"Cintailah Allah karena nikmat yang Dia berikan kepadamu..Dan, cintailah aku karena Allah Swt."...ALLAH berfirman: "Jika kamu mencintai Allah maka ikuti Muhammad. Niscaya Allah akan mencintai kamu semua."...


(shodaqollahul adzim)

Sifat Imam


Rasulullah saw. dididik Allah Swt. secara langsung. Kepada beliau berguru Ali bin Abi Thalib. Kepada beliau dan Ali berguru para sahabat Nabi untuk memperoleh petunjuk dalam mengarungi samudera Ilahi. Abu Bakar ra. berkata, “Tinggalkan aku. Aku bukan yang paling baik di antara kamu selama ada Ali di tengah-tengah kamu.” Ucapan ini bukan hanya menunjukkan kerendahan hati yang berbicara, tetapi juga menunjukkan keutaman orang yang dibicarakannya. Berkata At-Tirmidzi, yang meriwayatkan hadist ini, “Ia (Abu Bakar) mengatakan itu karena ia tahu keadaan Ali kw., dan martabatnya dalam khilafah sebenarnya, yang pokok dan yang pasti, berdasarkan urutan, secara hakikat, meurut akal, dan atas keterikatan kepada Allah Swt. (takhallufan, wa tahaqquqan, wa ta’aqquqan, wa ta’alluqan) (Lihat Al-Bahrani, Ghayat Al-Maram, bab 53).

Umar berkata, “Tentang Ali, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dan menyebut tiga hal. Sekiranya satu saja dari yang tiga itu berkenaan dengan aku, ia lebih berharga dari apa pun yang dinaungi cahaya matahari. Waktu itu, aku berada bersama Abu ‘Ubadah, Abu Bakar, dan banyak sahabat lainnya. Tiba-tiba Nabi saw. menepuk bahu ‘Ali seraya berkata, “wahai Ali. Kamu adalah Mukmin yang pertama beriman, Muslim yang pertama berisalam, dan kedudukanmu terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa’.” (Ibnu Ali Al-Hadid, Syarh Najh Al-Balaghah. Al-Khawarizmi juga meriwayatkan hadits ini dalam Al-Manaqib).

Tidak cukup tempat dalam tulisan ini untuk memuat penilaian sahabat lain tentang Ali. Cukuplah di sini dikutip ucapan Mu’awiyah, yang sepanjang hidupnya memusuhi Ali. Sekali waktu, demi menyenangkan hati Mu’awiyyah, Al-Dhabi menceritakan kedatangannya dari pertemuan dengan Ali, “Aku datang kepadamu dari manusia yang paling bakhil (maksudnya Ali).” Di luar dugaan, Mu’awiyyah berkata, “Celakalah kamu. Bagaimana mungkin kamu menyebut dia manusia yang paling bakhil, padahal sekiranya ia memiliki rumah dari emas dan rumah dari jerami, ia akan memberikan rumah emasnya sebelum rumah jeraminya. Dia sendiri yang menyapu Baitul Mal dan melakukan shalat di dalamnya. Dia juga yang berbicara kepada emas dan perak, ‘Wahai kuning dan putih. Tipulah orang selainku!’ Dialah yang tidak akan meninggalkan warisan, walaupun seluruh dunia menjadi miliknya.”

Sebenarnya, Mu’awiyah hanya mengulang apa yang pernah dilaporkan kepadanya oleh Dhahar bin Dhamrah. Ketika Dhahar berada di istana Mu’awiyah, ia diminta untuk menceritakan sifat-sifat Ali. Anda tahu, pada waktu itu, Mu’awiyah mengharuskan para khatib Jumat mengutuk Ali di mimbar-mimbar dan menghukum orang yang tidak mau melakukannya. Siapa saja yang memuji Ali, maka ia akan dianggap subversif. Bahkan diam saja, tidak mengecam Ali, akan dipandang menentang penguasa. Misalnya, Hujur bin ‘Adi dan kawan-kawannya, mereka dihukum mati (sebagian dikubur hidup-hidup) karena tidak mau mengutuk Ali pada waktu shalat Jumat. Dalam kadaan seperti itu, tentu saja Dharar keberatan. Jika ia menceritakan yang sebenarnya, ia akan dianggap memuji dan mengkultuskan Ali. Bagi yang tidak senang bunga mawar, menyebut mawar itu harus sudah dianggap pujian, padahal harum adalah sifat mawar.

Al Haudh Untuk Insan Terpilih

KHOTBAH 94

Allah mengutus Nabi di saat manusia sedang tersesat dalam kebingungan dan sedang bergerak ke sana sini dalam kejahatan. Hawa nafsu telah menyelewengkan mereka dan tipu daya telah menyimpangkan mereka. Kejahilan yang amat sangat telah membuat mereka menjadi tolol. Mereka dibingungkan oleh ketidakpastian hal-hal dan kejahatan jahiliah. Kemudian Nabi SAWW berusaha sebaik-baiknya dalam memberikan kepada mereka nasihat yang tulus; beliau sendiri berjalan di jalan yang benar dan memanggil (mereka) kepada kebijaksanaan dan nasihat yang baik. •





Penyelamat Dunia(Ya Mehdi Help)

(Sebelum Penganjur Kebajikan ini,[1] urusan akan membusuk) hingga peperangan akan berkecamuk di antara Anda dengan kekuatan penuh, menonjolkan giginya; dengan tetek penuh dengan susu manis, tetapi dengan puting yang asam. Hati-hatilah, itu akan terjadi besok, dan hari esok itu akan segera datang dengan hal-hal yang tidak Anda ketahui. Orang yang berkuasa, bukan dari kerumunan ini, akan menegur orang-orang yang dahulu ditetapkan karena perbuatan buruk mereka, dan bumi akan menumpahkan perbendaharaan isinya dan melemparkan kuncinya ke hadapannya dengan raudah. la akan menunjukkan kepada Anda jalan perilaku yang adil dan menghidupkan lagi Al-Qur'an dan sunah yang telah menjadi tak bernyawa (di kalangan manusia).


ALLAHUMMASOLLIA' LA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD.

WA A'JJIL FARAJAHUM!

Kosong Yg d Ciptakan Allah


Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Barangsiapa mengatakan "dalam apa la berada", (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan "di atas apa la berada" maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.
la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.

Iman, Kafir, Ragu, dan Dukungannya


وسُئِلَ عليه السلام عَنِ الاِِْيمَانِ، فَقَالَ: الاِِْيمَانُ عَلَى أَرْبَعِ دَعَائِمَ: عَلَى الصَّبْرِ، والْيَقِينِ، وَالْعَدْلِ، وَالْجَهَادِ: فَالصَّبْرُ مِنْهَا عَلَى أَربَعِ شُعَبٍ: عَلَى الشَّوْقِ، وَالشَّفَقِ وَالزُّهْدِ، وَالتَّرَقُّبِ: فَمَنِ اشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَلاَ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَمَنْ أشْفَقَ مِنَ النَّارِ اجْتَنَبَ الْـمُحَرَّمَاتِ، وَمَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا اسْتَهَانَ بِالْمُصِيبَاتِ، وَمَنِ ارْتَقَبَ الْمَوْتَ سَارَعَ فِي الْخَيْرَاتِ. وَالْيَقِينُ مِنْهَا عَلَى أَرْبَعِ شُعَبٍ: عَلَى تَبْصِرَةِ الْفِطْنَةِ، وَتَأَوُّلِ الْحِكْمَةِ وَمَوْعِظَةِ الْعِبْرَةِ وَسُنَّةِ الاََْوَّلِينَ فَمَنْ تَبَصَّرَ فِي الْفِطْنَةِ تَبَيَّنَتْ لَهُ الْحِكْمَةُ، وَمَنْ تَبَيَّنَتْ لَهُ الْحِكْمَةُ عَرَفَ الْعِبْرَةَ، وَمَنْ عَرَفَ الْعِبْرَةَ فَكَأَنَّمَا كَانَ فِي الاََْوَّلِينَ. وَالْعَدْلُ مِنْهَا عَلَى أَرْبَعِ شُعَبٍ: عَلَى غائِصِ الْفَهْمِ، وَغَوْرِ الْعِلْمِ وَزُهْرَةِ الْحُكْمِ،ِ، وَرَسَاخَةِ الْحِلْمِ: فَمَنْ فَهِمَ عَلِمَ غَوْرَ الْعِلْمِ، وَمَن صَدَرَ عَنْ شَرَائِعِ الْحُكْمِ وَمَنْ حَلُمَ لَمْ يُفَرِّطْ فِي أَمْرِهِ وَعَاشَ فِي النَّاسِ حَمِيداً. وَالْجِهَادُ مِنْهَا عَلَى أَرْبَعِ شُعَبٍ: عَلَى الاََْمْرِ بالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْي عَنِ الْمُنكَرِ، وَالصِّدْقِ فِي الْمَوَاطِنِ وَشَنَآنِالْفَاسِقيِنَ: فَمَنْ أَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ شَدَّ ظُهُورَ الْمُؤمِنِينَ، وَمَنْ نَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ أَرْغَمَ أُنُوفَ الْمُنَافِقِينَ،مَنْ صَدَقَ فِي الْمَوَاطِنِ قَضَى مَا عَلَيْهِ، وَمَنْ شَنِىءَ الْفَاسِقِينَ وَغَضِبَ لله غَضِبَ اللهُ لَهُ وَأَرْضَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَالْكُفْرُ عَلَى أَرْبَعِ دَعَائِمَ: عَلَى التَّعَمُّقِ وَالتَّنَازُعِ، وَالزَّيْغِ وَالشِّقَاقِ فَمَنْ تَعَمَّقَ لَمْ يُنِبْإِلَى الْحَقِّ، وَمَنْ كَثُرَ نِزَاعُهُ بِالْجَهْلِ دَامَ عَمَاهُ عَنِ الْحَقِّ، وَمَنْ زَاغَ سَاءَتْ عِنْدَهُ الْحَسَنَةُ وَحَسُنَتْ عِنْدَهُ السَّيِّئَةُ وَسَكِرَ سُكْرَ الضَّلاَلَةِ، وَمَنْ شَاقَّ وَعُرَتْعَلَيْهِ طُرُقُهُ وَأَعْضَلَعَلَيْهِ أَمْرُهُ وَضَاقَ مَخْرَجُهُ. وَالشَّكُّ عَلَى أَرْبَعِ شُعَب: عَلَى الَّتمارِي وَالهَوْلِ وَالتَّرَدُّدِ والاْسْتِسْلاَمِ فَمَنْ جَعَلَ الْمِرَاءَدَيْدَناًلَمْ يُصْبِحْ لَيْلُهُ وَمَنْ هَالَهُ مَا بَيْنَ يَدَيْهِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَمَن تَرَدَّدَ فِي الرَّيْبِوَطِئَتْهُ يَدَيْهِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَمَن تَرَدَّدَ فِي الرَّيْبِوَطِئَتْهُ سَنَابِكُ الشَّيَاطِينِ وَمَنِ اسْتَسْلَمَ لِهَلَكَةِ الدُّنْيَا وَالاَْخِرَةِ هَلَكَ فِيهِمَا.


Amirul Mukminin as ditanyai tentang keimanan, lalu ia berkata:

Iman berdiri di atas empat kaki: kesabaran, keyakinan, keadilan dan jihad.
Kesabaran pun mempunyai empat aspek: gairah, takut, zuhud, dan antisipasi (akan kematian)., maka barangsiapa bergairah untuk surga, ia akan mengabaikan hawa nafsunya; barangsiapa takut akan api (neraka), ia akan menahan diri dari perbuatan terlarang; dan barangsiapa mengantisipasi kematian ia akan bergegas kepada amal baik.

Keyakinan juga mempunyai empat aspek: penglihatan yang bijaksana, kecerdasan dan pengertian, menarik pelajaran dari hal-hal yang mengandung pelajaran, dan mengikuti contoh orang-orang sebelumnya. Oleh karena itu, barangsiapa melihat dengan bijaksana, pengetahuan bijaksana akan terwujud kepadanya, dan barangsiapa yang terwujud padanya pengetahuan bijaksana, maka ia akan menilai obyek-obyek yang mengandung pelajaran, dan barangsiapa menilai obyek-obyek yang mengandung pelajaran, samalah dia dengan orang-orang yang terdahulu.

Keadilan juga mempunyai empat aspek: pernahaman yang tajam, pengetahuan yang mendalam, kemampuan baik untuk memutuskan, dan ketabahan yang kukuh. Oleh karena itu, barangsiapa yang memahami akan mendapatkan kedalaman pengetahuan; barangsiapa mendapatkan kedalaman pengetahuan, ia meminum dari sumber keadilan; dan barangsiapa berlaku sabar, maka ia tak akan melakukan perbuatan jahat dalam urusannya, dan akan menjalani kehidupan yang terpuji di antara manusia.

Jihad juga mempunyai empat aspek: menyuruh orang berbuat baik, mencegah orang berbuat kemungkaran, berjuang (di jalan Allahj dengan ikhlas dan dengan teguh pada setiap kesempatan, dan membenci yang mungkar., maka barangsiapa menyuruh orang lain berbuat baik, ia memberikan kekuatan kepada kaum mukmin; barangsiapa menghentikan orang lain dari kemungkaran, ia menghinakan orang kafir; barangsiapa berjuang dengan ikhlas pada segala kesempatan, ia melaksanakan seluruh kewajibannya; dan barangsiapa membenci yang mungkar dan menjadi marah demi Allah, maka Allah akan marah untuk kepentingan dia dan akan tetap meridainya pada Hari Pengadilan.

Kekafiran berdiri pada empat topangan: mengumbar hawa nafsu, saling bertengkar, menyeleweng dari kebenaran, dan perpecahan., maka barangsiapa mengumbar hawa nafsu, ia tidak cenderung kepada yang benar; barangsiapa banyak bertengkar dalam kejahilan akan selalu buta terhadap yang benar; barangsiapa menyeleweng dari kebenaran, baginya baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik dan ia tetap mabuk dengan kesesatan; dan barangsiapa membuat perpecahan (dengan Allah dan Rasul-Nya), jalannya menjadi sulit, urusannya menjadi rumit dan jalan lepasnya menjadi sempit.

Keraguan mempunyai empat aspek: ketidaknalaran, ketakutan, kegoyahan dan penyerahan yang tak semestinya kepada segala sesuatu., maka barangsiapa menempuh ketidaknalaran sebagai jalannya, baginya tak ada fajar setelah malam; orang yang takut akan apa yang menimpanya harus lari tunggang langgang; orang yang goyah dalam keraguan, iblis akan memijak-mijaknya; dan orang yang menyerah kepada kebinasaan dunia dan akhirat akan binasa di dunia dan akhirat.

Kebaikan Merubah Segalanya


Hidayah dari segi bahasa memiliki akar kata yang sama dengan hadiah. Dari asal katanya hidayah itu artinya pemberian yg diberikan secara lemah lembut. Menurut para ulama, hidayah itu ada beberapa macam yaitu:


1- Hidayah Naluri


Contohnya adalah yang diberikan kepada bayi yg baru lahir langsung bisa menyusu kepada ibunya, menangis ketika ngompol, dan lain-lain.


2- Hidayah Indrawi


Selain hidayah naluri, ada hidayah indrawi yg bisa didapat melalui panca indra. Melalui panca indra, manusia dapat mengenali bentuk, bau, rasa, suara dan raba.


3- Hidayah Akal


Hidayah indrawi yang didapat melalui panca indra tersebut di atas kadang suka salah dalam mempersepsikan, misalnya ketika kita lihat tongkat yg tercelup di air, terlihat bengkok, padahal sebenarnya kan tidak bengkok. Nah, untuk meluruskan indra ini maka manusia membutuhkan hidayah Akal. Dimana akal bisa "meluruskan tongkat yg bengkok" tadi dengan ilmu pengetahuan yg diolahnya.


4- Hidayah Agama


Di luar itu ada wilayah-wilayah yang akal tidak mampu untuk menjangkaunya, maka manusia membutuhkan hidayah lain yang dinamakan hidayah agama.


Allah Maha Adil. Semua makhluk (bukan hanya manusia) telah diberi hidayah oleh Allah SWT. Seperti disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-A'laa: 1-3 berikut ini:


“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi, Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”



Jadi semua makluk Allah itu sudah diberi hidayah. Semua manusia sudah diberi hidayah oleh Allah. Kepada manusia sudah diberi hidayah naluri, indra, akal, sudah diturunkan kitabullah, sudah diutus Nabi dan Rasul untuk menjelaskannya, dan lain-lain. Tapi manusia adalah makhluk yg terhormat, dia diberi kebebasan untuk memilih jalan. Mau jalan yang benar atau yang salah itu adalah pilihan masing-masing individu. Kalau manusia mau ke jalan yang benar maka Allah akan tunjukkan. Kalau mau ke jalan yang sesat, maka ia akan juga sampai pada yang dipilihnya tersebut.


Jadi syarat untuk memperoleh hidayah Allah itu yang pertama adalah kita harus MAU untuk menerimanya. Jadi kita yang harus aktif untuk mendapatkan petunjuk tersebut. Hidayah itu bak matahari, semua orang bisa mendapatkannya kalau mau. Kalau kita berlindung di dalam rumah atau ruangan yang tertutup, maka kita tidak akan dapat cahayanya. Kalau mau dapat sinar matahari, keluarlah, jangan tutupi sinarnya. Jadi dalam konteks mau tersebut, kemudian kita harus melakukan usaha-usaha yg mendukung ke arah sana. Kalau kita misalnya besok mau naik pesawat jam 5 pagi, maka kita harus bangun pagi lebih awal supaya tidak terlambat. Itu sebagai bukti bahwa kita memang mau naik pesawat jam 5 pagi tsb. Hanya mau tanpa usaha, tidak ada artinya.


Selain itu, kalau kita lihat beberapa ayat al-Quran, disebut juga ada beberapa kelompok/golongan yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah, diantaranya:


1- Orang-orang yg menutupi (kafir) kebenaran. Mereka ini menutup mata dan telinganya untuk memperoleh kebenaran. Orang semacam ini kata Allah tidak akan mendapat petunjuk kebenaran tersebut:


“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu[642][1] adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS At-Taubah: 37)


2- Orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang bergelimang dosa, orang yang tahu mana yang benar dan mana yang salah tapi dia tetep melakukan dosa demi dosa.


“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS At-Taubah: 80)


3- Orang-orang yg melupakan Allah, maka Allah pun akan melupakannya


“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS Al-An'am:44.)


“Mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka.” (QS At-Taubah: 67)


Kemudian setelah mau dan berusaha sekuat daya untuk mencarinya dan menghindari untuk masuk ke dalam golongan-golongan yang tidak akan diberi hidayah Allah, maka selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah berdoa supaya kita selalu diberi petunjuk dan bimbingan ke jalan yang lurus. Mangkanya setiap Sholat, kita selalu bermohon:


"Ihdina as-shirat al-mustaqiim". (Ya Allah, bimbinglah kami ke jalan yang lurus)


“Shirat al-ladziina ‘an‘amta ‘alaihim” (Jalannya orang2 yg Engkau beri Nikmat)


“Ghairi al-Maghdubi alaiihim wa la ad-Dhaalin”. (Bukan Jalan orang-orang yangg dimurkai dan juga sesat).


Konteks permohonan dalam surat al-Fatihah yang dikutip di atas dimaksudkan untuk bukan sekedar meminta petunjuk untuk kita melaksanakannya. Tapi juga bermohon untuk diantar/dibimbing sampai ke jalan yang lurus tersebut, yaitu as-sirath al-mustaqim. Karena bisa saja kita tahu petunjuk jalan ke suatu tempat, tapi pada prakteknya kita melenceng tersesat ke mana-mana karena berbagai sebab.


Jadi semua orang bisa mendapatkan hidayah Allah, kalau syarat-syarat itu dilakukan. Kalau syarat-syarat nya sudah dilakukan, kemudian dia sudah melakukan usaha sekuat tenaga tapi belum menemukan kebenaran, mungkin juga belum nemui orang yang menyampaikan risalah Allah kepadanya (mungkin seperti orang-orang pedalaman papua, dayak, dan lain-lain), maka Allah Maha Adil dan Bijaksana. Wallahu a’lam bishowab

Antara Kuala Lumpur Dan Gaza



Sifat-sifat Orang Mukmin


Wahai hamba-hamba Allah! Yang paling dicintai Allah ialah orang yang diberi Allah kemampuan (untuk bertindak) melawan hawa nafsunya, sehingga batinnya (larut) dalam kesedihan dan zahirnya terliput dalam takut. Lampu petunjuk bernyala dalam hatinya. la telah menyediakan pelipur untuk hari yang akan menimpanya. la memandang yang jauh sebagai dekat kepada dirinya, dan memandang yang sukar sebagai yang ringan. la menengok dan melihat; ia mengingat (Allah) dan memperbesar (tempo) amal-annya. la meminum air segar yang jalan ke sumbernya telah dimudahkan. Maka ia minum sepuasnya dan mengambil jalan yang rata. la telah menanggalkan busana nafsu dan melepaskan kecemasan, kecuali satu kecemasan yang khas baginya. la selamat dari kesesatan dan perkawanan dengan orang yang mengikuti hawa nafsunya. la telah menjadi kunci bagi pintu-pintu petunjuk, dan gembok bagi pintu-pintu kehancuran.la telah melihat jalannya dan berjalan di atasnya. la mengetahui tiang (petunjuk)nya dan telah menyeberangi airnya yang dalam. la telah berpegang pada topangan yang paling terpercaya dan tali yang paling kuat. la berada di tingkat keyakinan yang seperti cerahnya matahari. la telah menetapkan dirinya bagi Allah Yang Mahasuci, karena melaksanakan perbuatan-perbuatan yang paling luhur dengan menghadapi segala yang menimpanya dan dengan mengambil setiap langkah yang diperlukan untuk itu. la lampu dalam kegelapan. la penghalau semua kebutaan, kunci kepada yang gelap, penyingkir semua keruwetan, dan pandu di gurun-gurun yang luas. Bila ia bicara ia memahamkan, sedang bila ia diam maka amanlah berlaku demikian. la melakukan segala sesuatu semata-mata bagi Allah, maka Allah pun menjadikannya milik-Nya sendiri. Maka, ia seperti tambang keimanan (kepada)-Nya, dan sebagai batang di bumi-Nya. la telah mewajibkan dirinya (mengikuti) keadilan.Langkah pertama dari keadilannya ialah penolakan hawa nafsu hatinya. la menggambarkan hak dan berbuat sesuai dengan itu. Tak ada kebaikan yang tidak ditujunya, tak ada pula kemungkinan tempat (kebajikan) dari Al-Qur'an yang tidak dicarinya. Karena itu, Al-Qur'an adalah pandu dan pemimpinnya. la turun bila Al-Qur'an menurunkan beratnya, dan ia diam di mana Al-Qur'an mendiamkannya.

Yahudi Orthodox


'Talmud' adalah penjelasan seputar hukum Taurat yang berasal dari dua bagian, iaitu 'misnah' dan 'gemara'. Yahudi Orthodox percaya bahwa penjelasan Taurat telah diajarkan secara lisan oleh Musa as dan dilanjutkan secara turun -temurun hingga 2 Masehi. Setelah itu pengajaran secara lisan [oral tradition ] tidak dipraktekkan lagi tapi dikodefikasikan ke dalam sebuah kitab yang disebut 'mishnah'. Selama kurun itu, berbagai komentar dan interpretasi lanjutan diikutsertakan baik semasa di Yeruselam maupon Babilonia. Tambahan [dari Babilonia] ini disebut 'gemara'. Pada abad ke-5 M, dua kitab itu dikompilasi menjadi satu dan disebut 'tahmud'. [lih. Tracey R Rich, Judaism 101, bab "Words","Torah (Basic)", JewFAQ Organization, Electronic version].

Anda Bukan Mukmin.


Sementara orang (jenis) lain adalah orang yang menamakan dirinya berilmu tetapi tidak berilmu. la mengumpul-ngumpulkan kejahilan dari orang jahil, dan kesesatan dari orang tersesat. la memasang bagi manusia jerat dari tali-tali penipuan dan ucapan-ucapan tak benar. la mengambil (pengertian) Al-Qur'an menurut pandangannya sendiri dan hak menurut hawa nafsunya. la membuat orang merasa selamat dari dosa-dosa besar dan meremehkan kejahatan-kejahatan yang parah. Katanya ia menunggu (kejelasan) atas keraguan, tetapi ia tetap tercelup di dalamnya, katanya ia menjauh dari bid'ah padahal sesungguhnya ia terbenam di dalamnya. Bentuknya adalah manusia, tetapi hatinya binatang. la tak mengenal pintu petunjuk untuk diikuti maupun pintu kesesatan untuk dijauhi. Mereka adalah mayat-mayat hidup.

Ciptakan Kejahatan?


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bias menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein (Kisah Nyata)

ALLAH-RASUL-ULUL AMR

Konsep Kepemimpinan Dalam Islam

Salah satu prinsip utama Islam yang mendapat perhatian besar Al Quran adalah prinsip wilayah. Al Quran menyebutnya hingga 236 kali. 124 kali dalam bentuk kata benda dan 112 kali dalam bentuk kata kerja. Salah satunya adalah yang terdapat pada surat Al-Maidah ayat 55 dan 56. Pada kedua ayat ini Al Quran menggunakan kedua bentuk kata wilayah itu.

"Sesungguhnya wali (bentuk kata benda) kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat saat mereka sedang ruku'. Maka barangsiapa yang berwilayah (kata kerja : yatawallâ) kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, sesungguhnya partai Allah adalah yang menang."

Secara bahasa, wilayah atau walayahyang berakar dari kata w-l-y pada dasarnya mengandung makna kedekatan, apakah itu kedekatan jasmaniyah atau kedekatan maknawiyah. Karena itu, ia kadang berarti berteman, menolong, mencintai, mengikuti, menteladani, memimpin atau mematuhi. Karena makna-makna tersebut pada dasarnya merujuk pada makna adanya kedekatan antara pelaku, subyek, dan penderita.

Kata wâlî (isim fail: nama pelaku) misalnya, kadang berarti teman, pembela, atau pemimpin; tergantung penggunaannya. Ketiga makna yang berbeda ini sesungguhnya memiliki dasar yang sama, yakni adanya kedekatan antara subjek dengan objek. Karena itu ia bisa berarti salah satunya atau keseluruhannya, tergantung qarinah, keadaan yang menyertainya dalam pembicaraan. Ayat 5 : 55-56 di atas misalnya, walayah (wali) digunakan dalam arti kepemimpinan.

Jadi maknanya: "Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat ketika mereka sedang ruku. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya, sesungguhnya partai Allah adalah yang menang."

Sementara itu pada ayat 10 : 62, walayah(auliya') dimaksudkan sebagai kekasih: "Ketahuilah, sesungguhnya para kekasih Allah (Auliya' Allah) tidak memiliki rasa takut dan tidak pernah gusar". Sehubungan dengan itu, Al Quran banyak berbicara tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi persoalan wilayah ini. Atau dengan kata lain, bagaimana seharusnya kita berwilayah.

Al Quran menjelaskan terdapat dua bentuk wilayah, yaitu wilayah positif dan wilayah negatif. Wilayah positif ialah wilayah yang diseru oleh Allah, sedangkan wilayah negatif ialah wilayah yang dilarang Allah. Maksudnya ialah Allah memerintahkan kita agar berwilayah kepada pihak-pihak yang diperkenankan-Nya (wilayah positif) dan melarang kita berwilayah kepada pihak-pihak yang tidak diperkenankan-Nya (wilayah negatif).

1.Wilayah Negatif

Berkaitan dengan wilayah negatif, Al Quran dengan tegas mengatakan bahwa kaum Muslimin dilarang berwilayah kepada orang-orang yang berada di luar barisan mereka, yakni orang-orang kafir. Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu angkat musuh-Ku dan musuhmu sebagai wali-wali, yang kamu curahkan cinta kasihmu kepada mereka. Karena mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepadamu, mengusir Rasulullah, dan mengusir kamu karena imanmu kepada Allah Tuhanmu."(QS. 60:1)

Hal itu karena orang-orang yang jelas-jelas menolak kebenaran, tidak dapat dipercaya. Dalam diri mereka tersimpan rasa permusuhan dan ketidaksenangan terhadap kaum Muslimin. Al Quran menegaskan: "Jika mereka menangkap kamu, mereka memperlakukanmu sebagai musuh dan bertindak buruk terhadapmu dengan tangan dan lidah mereka. Mereka ingin kamu kembali kafir lagi."(QS 60:2)

Akan tetapi larangan ini tidak berarti bahwa kaum Muslimin juga dilarang berbuat baik kepada orang-orang luar (non muslim) yang tidak punya maksud buruk terhadap kaum Muslimin. Sama sekali tidak. Al Quran dengan jelas menyatakan: "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu dalam agama dan mengusir kamu dari tempatmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil." (QS 60: 8 )

Islam adalah agama rahmatan lil-'âlamîn. Agama yang menyeru umatnya untuk berbuat baik kepada siapa pun. Akan tetapi karena di antara orang-orang kafir itu terdapat orang-orang yang punya maksud buruk terhadap Islam, kaum Muslimin harus selalu waspada dan tidak boleh lengah sedikitpun. Sebab jika mereka lengah, orang-orang kafir itu dapat menguasai kaum Muslimin. Untuk itu wilayah tidak boleh diberikan kepada orang-orang kafir.

2.Wilayah Positif

Ada dua bentuk wilayah positif yang mesti dilakukan oleh kaum Muslimin, yaitu wilayah terhadap kaum Muslimin secara umum, disebut Wilayah Positif Umum. Dan wilayah kepada pihak-pihak tertentu secara khusus, Wilayah Positif Khusus. Ada banyak penjelasan tentang kedua hal ini secara khusus di dalam Al Quran. Demikian pula penjelasan oleh Nabi SAWW.

2.1.Wilayah Positif Umum

Al Quran menegaskan bahwa kaum Muslimin satu sama lain adalah wali terhadap yang lainnya. "Wal Mu`minûna wal mu`minâtu ba'dhuhum auliyâ`u ba'dh." (QS 9:71) Mereka adalah saudara, innamal mu'minûna ikhwah. (QS 49: 10) Hubungan sesamanya didasarkan pada cinta kasih, ruhamâ`u bainahum (QS 48:29).

Bahkan Nabi SAWW menggambarkan bahwa kaum Muslimin itu bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka anggota yang lain ikut sakit. Karena itu kaum Muslimin tidak boleh gontok-gontokan (QS 8:46). Harus bersatu (QS 3: 103) dan membangun hubungan di antara mereka dengan saling percaya (QS 48:12). Jika demikian, maka kaum Muslimin akan jaya selamanya. "Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersikap gusar. Sesungguhnya kamulah yang unggul, jika kamu beriman."(QS 3: 139)

2.2.Wilayah Positif Khusus

Yang dimaksud di sini adalah wilayah kepada Ahlul Bayt, keluarga suci Nabi SAWW. Ahlussunnah dan Syi'ah sepakat bahwa Nabi SAWW menuntut umatnya agar berwilayah kepada Ahlul Bayt a.s. Al Quran Surat As-Syura (42) 23 menegaskan: “Katakan: "Aku tidak minta upah apapun atas risalahku ini kecuali cinta kepada keluarga(ku)."

Demikian pula ayat 55-56 Surat Al-Maidah (5): "Sesungguhnya (wali) pemimpin kamu ialah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat saat mereka ruku".Para ahli tafsir menjelaskan bahwa orang beriman yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. Nabi SAWW berkata: "Barangsiapa yang menganggapku sebagai maula,, pemimpinnya, maka Ali adalah maula, pemimpinnya."

Namun demikian, wilayah kepada Ahlul Bayt a.s. dapat dibagi dalam beberapa bentuk. Pertama, wilayah mahabbahatau kecintaan kepada Ahlul Bayt a.s. Kedua, wilayah imamahatau menteladani dan mengikuti Ahlul Bayt a.s. Ketiga, wilayah zi’âmah atau mengakui Ahlul Bayt a.s. sebagai pemimpin-pemimpin sosial dan politik. Dan keempat wilayah tasharrufatau mengakui Ahlul Bayt a.s. memiliki kemampuan "mengendalikan" alam.

Wilayah Mahabbah

Cinta kepada Ahlul Bayt a.s. merupakan keharusan yang tidak terbantahkan. Puluhan bahkan ratusan hadis menyeru kita untuk mencintai Ahlul Bayt a.s., apakah itu hadis Sunni atau Syi’ah. Bahkan ahli tafsir terkenal, Fakhrur Razi, penulis kitab At-tafsîrul Kabîr, yang dalam masalah khilafah menyerang keras pandangan Syi’ah, menukil banyak hadis tentang kewajiban mencintai Ahlul Bayt a.s. Antara lain:

"Barangsiapa yang meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad (Ahlul Bayt), maka ia mati sebagai syuhada. Ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati sebagai orang yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah. Ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati sebagai orang yang taubat kepada Allah. Dan ketahuilah, barangsiapa yang meninggal dunia dalam kecintaan kepada keluarga Muhammad, mati sebagai orang yang telah sempurna imannya."

Berkenaan dengan kecintaan kepada Ahlul Bayt a.s. ini, lmam Syafi’i telah menggubah beberapa syair kecintaan kepada Ahlul Bayt. Antara lain:


Wahai Ahlul Bayt Rasulullah

Mencintai kalian diwajibkan Tuhan

Tingkatmu agung sudah jelaslah

Dalam Al Quran terdapat bahan

Siapa meninggalkan shalawat untuk kalian

Shalat tidak sah, begitu hukumnya

Tinggi kedudukan, tinggi derajat kalian

Merupakan karunia Allah semuanya

Jika Ali serta Fatimah

Dipuji orang dengan sanjungan

Pasti ada orang amarah

Menamakan Rafdhi dalam kenangan

Lalu kutanyai orang berbudi

Yang kuat imannya kepada Allah

Mencintai Fatimah bukan Rafdhi

Sebaliknya mencintai Rasulullah

Shalawat Tuhan tidak terhingga

Kepada Ahlul Bayt serta salam

Laknat turun tangga

Kepada jahiliyah masa silam



Dalam pada itu diceritakan bahwa Farazdaq, penyair terkenal pada abad pertama Hijrah yang secara spontan melontarkan syair-syair pujian kepada Imam Ali Zainal Abidin a.s. putra lmam Husein a.s. tatkala Ibn Hisyam, penguasa Umaiyah, pura-pura tidak mengenalnya saat ia dengan kesal menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa orang-orang memberi jalan kepada Imam agar dapat bertawaf dengan baik. Sementara ia sendiri harus menanti berjam-jam menunggu sepinya petawaf. Ketika ditanya dalam mimpi sesudah ia meninggal dunia, apa yang dialaminya? Farazdaq menjawab bahwa ia telah diselamatkan oleh syair-syair pujiannya kepada Imam Ali Zainal Abidin.

Dengan demikian, maka seluruh kaum muslimin, siapa pun mereka, harus mencintai Ahlul Bayt Rasulullah SAWW.

Wilayah Imamah

Yang dimaksud dengan Wilayah Imamah ialah al-marjaiyyah al-diniyyah atau posisi sebagai panutan dalam masalah-masalah agama dan akhlak. Umat harus menteladani mereka dan merujuk kepada mereka dalam masalah-masalah agama. Cinta saja, dalam arti kecenderungan perasaan, masih belum cukup. Cinta harus diikuti oleh sikap menteladani orang yang dicintai. Itulah maksud dari firman Allah (QS 3:31): “Katakanlah : "Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku. Dengan demikian, Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Itulah arti cinta sejati. Tentang Rasulullah, Allah berfirman: "Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik buat kamu." (QS 33:21) Ayat ini menjelaskan tentang wilayah imamah yang dimiliki Rasullulah SAWW. Kaum muslimin harus merujuk kepada Rasulullah SAWW dan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan mereka.

Sesudah Rasulullah SAWW, posisi ini dipikul oleh Ahlul Bayt a.s. Nabi SAWW bersabda: "Kutinggalkan pada kamu dua hal yang berat (tsaqalain), jika kamu berpegang kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat untuk selamanya, yaitu Kitab Allah dan keluargaku, Ahlul Baytku. "

Hadis Nabi tentang keharusan mengikuti Ahlul Bayt a.s. ini adalah hadis yang shahih, bahkan mutawatir. Semua ulama sepakat tentang kebenaran hadis ini dan tidak seorang pun yang berani menolaknya. Ia diriwayatkan oleh lebih dari 20 Sahabat Nabi. Karena itu ia termasuk di antara hadis-hadis yang qat'iy, yang kepastiannya tidak dapat diragukan oleh siapa pun. Selain hadis tsaqalain ini terdapat banyak hadis lain yang memiliki makna yang sama.

Misalnya hadis : "Barangsiapa yang ingin hidup seperti aku, maka ia harus berwilayah kepada Ali sesudahku dan mengikuti para imam dan keluargaku yang telah dikaruniai dengan pengetahuan dan kecerdasan. Celakalah orang-orang yang mengingkari keunggulan mereka. Orang-orang seperti ini akan dicabut keperantaraanku untuk kepentingan mereka." dan sebagainya.

Wilayah Ze’âmah

Wilayah Ze’âmah atau kepemimpinan sosial-politik ialah otoritas yang diberikan Allah kepada nabi-Nya untuk mengatur urusan kemasyarakatan, tidak terkecuali masalah kekuasaan. Nabi SAWW adalah Wali Amril Muslimin atau penguasa Islam. Sesudah Nabi SAWW, otoritas atau wilayah ze’âmah ini dilimpahkan kepada Ahlul Bayt a.s. Merekalah yang dimaksud dalam firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para Wali Amr kamu." (QS 4:59) Berdasarkan hadis yang sahih, wali amr kamu di sini adalah para lmam Ahlul Bayt a.s.

Wilayah Tasharruf

Wilayah Tasharruf atau Wilayah Maknawiyahialah kemampuan yang diberikan Allah kepada seseorang yang telah mencapai maqam qurb, posisi kedekatan dengan Allah yang sedemikan rupa sehingga yang bersangkutan dianugrahkan kekuasaan mengendalikan alam dan jiwa manusia. Wilayah ini adalah wilayah tertinggi yang mungkin dapat dicapai oleh manusia. Al Quran dengan tegas menyatakan adanya orang-orang tertentu yang dianugrahi wilayahini.

Salah seorang di antara mereka adalah Nabi Sulaiman a.s. Ia dianugrahi Allah misalnya, kemampuan mengatur perjalanan angin. "Maka Kami tundukkan angin untuknya yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya."(QS. 38:36) Demikian pula kekuatan yang diberikan Allah: "Berkatalah orang yang mempunyai ilmu dari Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia berkata : "Ini semua merupakan karunia Tuhanku." (QS. 27:40)

Tetapi wilayah ini tidak didapat oleh sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang telah mencapai kedudukan yang sangat dekat dengan Allah, yang dapat mencapainya. Tentu saja Rasulullah SAWW adalah orang yang paling utama dalam hal ini. Beliau memiliki wilayah tasharruf yang paling tinggi. Sesudah Rasulullah, para Imam suci Ahlul Bayt a.s. adalah orang-orang yang dianugrahi Allah wilayah ini. Oleh karena itu, maka Islam memerintahkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui orang-orang suci ini.

[oleh: Murtadha Muthahhari]

Tanah, Cahaya, Air, Angin Dan Api


Diriwayatkan dari ash-Shadiq as bahwasanya dia berkata,"Sesungguhnya yang pertama kali melakukan kias adalah Iblis. Iblis berkata,'Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Dan seandainya Iblis mengetahui apa yang diciptakan Allah bagi Adam, niscaya dia tidak akan membanggakan dirinya kepada Adam." Kemudian ash-Shadiq as berkata," Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan malaikat dari cahaya, menciptakan al-jann dari api, menciptakan jin (golongan al-jann) segolongan dari angin dan segolongan lagi dari air, dan menciptakan Adam dari permukaan tanah, kemudian Dia memasukkan cahaya, api, angin, dan air ke dalam tubuh Adam. Maka, dengan cahaya itulah Adam dapat melihat, memahami, dan mengerti; dengan api itulah dia dapat makan dan minum, dan seandainya bukan karena api di dalam perut (anak Adam), niscaya perut itu tidak akan dapat menggiling makanan; seandainya bukan karena angin di dalam perut anak Adam, niscaya api akan membakar perut; dan seandainya bukan karena air di dalam perut Adam yang memadamkan panasnya api, niscaya api itu akan membakar perut anak Adam. Maka Allah menghimpunkan semua itu dalam diri Adam dan pada diri Iblis terdapat lima elemen itu juga, lalu dia membanggakan dirinya dengannya."[5]



[5] Al-Ikhtishash, hal. 109, bab "Kias".

Akal Yang Tertinggi


Asy-Syami pernah bertanya kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as tentang orang pertama yang mengucapkan syair, Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib as menjawab,"(Orang yang pertama kali mengucapkan syair adalah) Adam. Ketika Adam diturunkan ke bumi dari langit, dia melihat tanahnya, kelapangannya, dan cuacanya, sampai Qabil membunuh Habil, Adam mengucapkan bait syair ini:


Berubahlah negeri dan semua yang ada atasnya,

wajah bumi tertutup debu nan jelek.

Berubah segala yang memiliki warna dan rasa,

dan berkuranglah keceriaan wajah yang senang.


Kemudian Iblis yang terkutuk bereaksi dengan syairnya;


Tersingkir sudah dari negeri dan penghuninya,

Jauh dari kekekalan menjadi sempit yang lapang.

Dahulu kau bersama pasanganmu menetap nyaman,

Sedang hatimu dari derita dunia aman.

Belum kau terkena tipu dan kejahatanku,

Hingga nilai tinggi akhirnya hilang darimu.

Sungguh jikalau rahmat Sang Kuasa tidak kau korbankan,

Pastilah udara surga abadi masih di genggam.


Diriwayatkan dari Abu Abdillah as, dia berkata,"Dahulu binatang-binatang liar, burung, binatang-binatang buas, dan segala sesuatu yang diciptakan Allah 'Azza wa jalla bergabung dan Saling berhubungan. Namun ketika Anak Adam (Qabil) membunuh saudaranya (Habil), maka mereka berlarian ketakutan satu sama lain, dan masing-masing hanya kembali kepada kawanannya."96


'Ilal asy-Syara'i', jil.2, hal. 267, bab 340 dengan nomor 2.

Pewangi Keimanan


Keadilan Ilahi dalam Al-Quran


Perlu ditegaskan bahwa dalam al-Quran al-Karim kata “al-adl” dan variannya tidak pernah digunakan dan dinisbahkan kepada Tuhan[6], akan tetapi, keadilan ilahi hanya digunakan semata-mata untuk menjelaskan “penafian kezaliman”, sebagai contoh sejumlah ayat menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah menzalimi hak–hak manusia. Allah Swt berfirman, “sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”[7]
Dan dalam sebagian ayat menjelaskan bahwa keadilan Tuhan memiliki lapangan yang lebih luas, “dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang juapun.”[8] Dan, “dan tiadalah Allah berkehendak untuk menzalimi dan menganiaya hamba-hambaNya.”[9]
Yang dimaksud dengan “al-alamin” disini mungkin seluruh makhluk yang berakal seperti manusia jin dan malaikat serta juga ada kemungkinan yang dimaksud adalah seluruh alam jagat raya, keadilan Ilahi batasannya lebih luas daripada hanya mengkhususkan kepada kelompok manusia saja. Dan sebagian ayat menjelaskan keadilan takwini Tuhan, “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang dianugerahi ilmu menyatakan bahaw tidak ada Tuhan melainkan Dia.”[10] [11]
Sejumlah ayat juga menjelaskan keadilan tasyri’i, “kami tidak membebani setiap jiwa kecuali ia mampu memikulnya.”[12] Dan, “katakanlah bahwa Tuhanku memerintahkanku untuk berbuat adil dan menjalankan keadilan.”[13]
Demikian pula halnya sejumlah ayat juga menegaskan dan menjadi saksi atas keadilan hukum Tuhan, “dan kami memasang timbangan yang tepat (keadilan) pada hari kiamat maka tak seorangpun dirugikan barang sedikitpun.”[14] Dan, “Dialah yang memulai penciptaan kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) untuk memberikan pembalasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dengan penuh adil.”[15] Dan, “Dan kami sekali-kali tidak akan mengazab sebuah kaum sebelum kami mengutus kepada mereka seroang rasul.”[16] Serta, “Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaiya diri mereka sendiri.”[17]
Ayat terakhir menjelaskan tentang azab-azab yang menimpa para pemimpin yang zalim dan al-Quran dengan meyebutkan akibat dari perbuatan mereka bahwa balasan dan siksa Tuhan bukanlah berarti Tuhan akan menzalimi mereka. Tetapi itu akibat dari perbuatan mereka sendiri, oleh karena itu, jika terjadi penganiayaan dan kezaliman di antara mereka pada hakikatnya mereka yang menzalimi dirinya sendiri.
Disamping ayat al-Quran banyak sekali hadis yang sampai ke tangan kita yang menjelaskan keadilan Tuhan, seperti hadis yang dinukil dari Rasullah Saw, “Langit dan bumi tercipta berdasarkan keadilan.”[18] Amirul mukminin As ketika menjawab pertanyaan seseorang tentang makna tauhid dan adil bersabda, “Tauhid adalah engkau tidak membayangkannya (menyerupakan dengan makhluk) dan adil adalah tidak menuduh dan menyangka sesuatu yang tidak layak untukNya.” Demikian juga ketika menyifati Allah Swt, beliau bersabda, “Allah tidak akan pernah mengzalimi hambanya dan menegakkan dan melaksanakan keadilan di antara makhluknya dan berlaku adil dalam pelaksanaan hukumnya.”[19]





[6] Barangkali tidak digunakan kata “adl” sesuai dengan makna yang dibahas dalam al-Quran karena “adl” terkadang bermakna “keluar dari jalan lurus” sebagaimana pada ayat pertama surah al-an’am bermakna syirik secara mutlak, artinya “orang –orang kafir mempersekutukan sesuatu dengan tuhan.”

[7] Qs. Yunus: 44.

[8] Qs. Al-kahfi: 49.

[9] Qs. Ali Imran: 108.

[10] Qs. Ali imran: 18.

[11] Dalam ayat ini, keadilan Ilahi dijelaskan secara mutlak , dengan demikian disamping sebagai bukti atas keadilan takwini Tuhan juga bisa dijadikan bukti untuk keadilan yang lain.

[12] Qs. Al-mukmin: 62.

[13] Qs. Al-a’raf: 29.

[14] Qs. Al-anbiya: 47.

[15] QsYunus: 4.

[16] Qs. Al-isra’: 15.

[17] Qs. At-taubah: 70 dan rum: 9.

[18] Faydz Kasyoni, Tafsir Shafy, hal. 628.

[19] Nahjul Balagha, khutbah 185.

Oh! Kekasih

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya. Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema.
Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam--yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.
Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): "Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya".
Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada
Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center "UNDER SIEGE" P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

Sumber: RausyanFikr's Site

Kurniaan Akal pada Manusia


Apakah Akal Menguasai Tuhan?

Sebagian orang mengatakan bahwa, dengan maksud menghentikan permasalahan ini, akal yang kita maksudkan bukan akal manusia, melainkan akal Tuhan sendiri yang memberitahunya untuk tidak melakukan hal yang tidak Dia kehendaki. Jadi Dia tidak dikuasai oleh makhluk ciptaan, tetapi oleh pikirannya sendiri. Jawaban ini dapat, hingga beerapa derajat, diterima oleh orang awam dan tampak meyakinkan. Namun, pada pemikiran yang lebih dalam, kita menyadari bahwa itu bukanlah jawaban yang tepat, pertama karena Tuhan adalah Zat yang sederhana yang di dalamnya tidak terdapat entitas yang disebut pikiran sehingga entitas lain dapat mematuhinya.
Pengetahuan, kekuatan, hidup dan semua Sifat Zat lainnya adalah Esensi-Nya juga zat tunggal dan sederhana dengan satu entitas tunggal saja. Namun, mengatakan bahwa pikirn Tuhan mengeluarkan perintah kepada-Nya akan berarti bahwa ada dua entitas dalam ZatNya: pikiran yang memerintah dan pikiran yang mematuhinya, sementara hal semacam itu mustahil terjadi terhadap Tuhan.
Selanjutnya, fungsi pikiran adalah untuk memahami konsep melalui pemerolehan pengetahuan. Pikiran yang memahami baik dan buruk, dan memerintahkan apa yang harus dilakukan dan yang tidak, adalah sebuah pikiran yang memahami konsep, dan konsep tersebut adalah konsep pengetahuan yang diperoleh, sementara pengetahuan Tuhan adalah intuitif, bukan pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, menggunakan kata “pikiran” sehubungan dengan Tuhan adalah sebuah kesalahan. Lalu, apa yang harus kita katakan?
Apakah maksudnya mengatakan bahwa perbuatan yang tidak disetujui oleh pikiran, mustahil dilakukan oleh Tuhan? Itu tidak berarti bahwa perbuatan itu sendiri mustahil, dan tidak berarti bahwa ada pengatur yang perintahnya harus dipatuhi oleh Tuhan, tidak juga bahwa ada kekuatan yang menghentikan perbuatan tersebut, karena dalam kasus tersebut, Tuhan akan diperngaruhi oleh faktor yang menghalangi perbuatanNya, mencegahnya dari berkehendak. Apapun faktor yang mungkin ada, itu berarti bahwa Tuhan berada di bawah pengaruh faktor tersebut, padahal Tuhan adalah Zat yang mustahil berada di bawah pengaruh dari pengaruh apapun. Sesungguhnya, Dialah yang memiliki pengaruh terhadap segala sesuatu, dan tidak akan pernah dipengaruhi.
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus mengkaji “kehendak”. Apa artinya mengatakan bahwa seseorang “berkehendak” melakukan sesuatu? Ketika ingin melakukan sesuatu perbuatan, bagaimana kita mengkehendakinya? Di dalam diri kita terdapat faktor-faktor yang menarik kita. Mereka mengkristal melalui keinginan kita dan berubah menjadi bentuk khusus, seperti keinginan untuk makan, berbicara, penegasan diri, dan pelbagai keinginan lainnya yang dikenal oleh manusia. Keinginan dan kecenderungan ini mengambil bentuk dalam kondisi dan interaksi material tertentu. Ketiak merasa lapar, sebuah keinginan kuat pada makanan muncul dalam diri kita. Hal yang bersama berlaku untuk keinginan2 kita yang lain yang berkaitan dengan pelbagai naluri kit ayang lain. Ketika keinginan mulai memasuki diri kita, kita memikirkannya untuk melihat apakah ada sesuatu yang mencegah kita dari memenuhinya dan bahwa ia tidak merugikan kita, di dunia ini atau pada hari akhir, baru setelah itu keinginan tersebut dapat dipuaskan. Dengan cara ini, kehendak kita dilaksnakan. Jadi, hakikat kehendak adalah keinginan batin yang terkristalkan, dalam kondisi teretentu, disertai oleh cara pemikiran biasa, dengan mengetahui kerugian dan keuntungannya, sisi baik dan jeleknya, dan lain. Dengan mengetahui bahwa ia menguntungkan dan tidak berbahaya, atau kerugiannya lebih kecil dari manfaatnya, ia mengambil bentuk menjadi keinginan yang membimbing pada pelaksnaannya. Jadi, mustahil terdapat kehendak tanpa adanya keinginan yang diharapkan oleh yang berkehendak.
Di dalam diri setiap wujud terdapat keinginan tertentu yang menyebabkan keinginan untuk memenuhinya. Misalnya, seekor ayam betina tidak berkehendak untuk melahirkan bayi2 dan tidak pernah memikirkan tentangnya [tentu saja, kita tidak mempunyai pengetahuan tentang pikiran seekor ayam, tapi hanya memperkirakan], atau burung pipit yang membangun sarangnya yang menempel pada atap atau di dekatnya, di koridor, dengan bentuk2 teretentu, tetapi tidak pernah berbentuk segi enam, bertentangan dengan lebah yang membangun sarangnya dengan bentuk segi enam.
Naluri khusus dalam makhluk2 ini muncul, di bawah kondisi tertentu dalam bentuk sebuah hasrat dan berakhir dalam pelaksanaan perbuatan. Kehendak kita juga berasal dari hasrat yang ada dalam batin kita, yaitu sesuai dengan keberadaan dan watak kejiwaan kita. Ada makhluk-makhluk yang hidup dengan makanan tertentu yang kita tidak pernah berhasrat mendapatkannya, bahkan, kita merasakan tolakan pada saat melihat makanan semacam itu untuk dimakan. Anda mungkin telah melihat babi-babi yang memakan kotorannya dan tidak menyukai makanan, dengan nafsu makan yang besar sedemikian rupa sehingga sangat menjijikkan bagi kita. Sebagian binatang lainnya merasakan bahwa sangat lezat memakan makanan yang busuk dan berbau tidak sedap.
Seandainya mengenal bahasa mereka, kita akan mendengar nada bibir mereka, yang mengatakan, “Betapa Lezatnya Makanan Ini!” sebaliknya, kita dipenuhi rasa muak melihat pemandangan tersebut. Kita tidak pernah berharap mendapatkan makanan seperti itu, meskipun makanan itu cocok dengan hewan2 tersebut. Mengapa kita tidak pernah berkehendak memakan makanan yang busuk, kotor, dan berbau tidak sedap, tidak juga melakukan perbuatan yang memalukan dan tercela? Karena ia tidak berada dalam keselarasan dengan wujud kita. Naluri kita tidak tertarik pada perbuatan-perbuatan semacam itu. Ada sebuah kehendak ketika ada dorongan, meskipun dorongan ini masih tetap samar-samar hingga kondisi tertentu diperoleh dan kehendak tersebut muncul. Jika merasa tidak ada kecenderungan terhadap sesuatu, kit tidak akan melakukannya, hal yang sama adalah kita tidak pernah berkehendak untuk berbagi makanan dengan seekor babi.
Oleh karena itu, tidak ada kehendak yang terjadi tanpa sebuah persiapan dan penyebab. Kehendak memiliki unsur naluriah, daya tarik batin, yang, dibawah kondisi tertentu, mengambil bentuk dan berubah menjadi sebuah hasrat, yang menyebabkan kita berkehendak melakukan sesuatu.
Secara singkat, tidak ada kehendak yang mungkin dilakukan tanpa adanya kesesuaian antara perbuatan tersebut dan pelakunya. Harus ada semacam kecocokan antara yang berkehendak dan sesuatu yang dia kehendaki. Kecocokan ini timbul dalam bentuk kecenderungan, yang, pada gilirannnya dan pada kondisi tertentu, berubah menjadi sebuah kehendak. Namun, sehubungan dengan Tuhan ketika kita mengatakan bahwa Dia, yang Mahaagung, berkehendak melakukan sesuatu, perbuatan tersebut harus pantas dilakukan olehNya. Namun, bukan berarti bahwa pertama-tama harus ada kecenderungan dalam diriNya, kemudian ia menjadi semakin kuat hingga menjadi hasrat, kemudian Dia mempertimbangkannya untuk menganggapnya sebaiknya dilakukan atau tidak, karena metode semacam ini menjadi milik sesuatu yang mungkin—sesuatu yang kurang informasi, lemah, miskin, dan lain-lain. Tuhan tidak dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dan faktor-faktor dari luar, atau dibawah pelbagai pengaruh, atau ketidak tahuan, sedemikian rupa sehingga Dia mungkin ingin memahami sesuatu dengan cara memikirkannnya. Gagasan ini tidak tepat sehubunagn dengan Tuhan.
Kehendak Tuhan dihubungkan dengan perbuatan yang sesuai dan cocok denganNya—sebuah kenyataan yang merupakan aspek kesempurnaanNya, artinya pelbagai kenyataan yang sempurna adalah aspek Kesempurnaan Mutlak Tuhan, karena Dia adalah Zat Sempurna Yang Tidak Terbatas. Segala sesuatu yang memiliki aspek kesempurnaan sebanding dengan Zat Tuhan, dna memperoleh keridhoaanNya dalam proporsi terhadap sejumlah kesempunaannya. Namun, mengenai aspek-aspek ketidaksempurnaan, kesalahan, cacat, sifat buruk, dan ketiadaan [yang seluruhnya sesungguhnya berasal dari ketiadaan], disebabkan oleh keberadaan mereka yang demikian, tidka dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan adalah sempurna, menyukai kesempurnaan, dan KehendakNya termasuk sesuatu yang memiliki aspek kesempurnaan. Tuhan tidak menyukai perbuatan buruk, dengan demikian, KehendakNya tidak pernah menyangkut perbuatan buruk. Mengapa? Karena hal itu tidak sesuai denganNya. Jawaban in imembuatnya jelas, mengapa Tuhan tidak berkehendak melakukan sesuatu. Hal ini karena sesuatu tersebut tidak memiliki aspek kesempurnaan. Jika memiliki aspek kesempurnaan, hal itu mungkin, disebabkan aspek tersebut, suatu perbuatan dikehendaki oleh Tuhan.[
]

Sebab Dan Musabab


Ketika mengatakan bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu, kita maksudkan bahwa jika menghendaki, Dia akan melakukannya, dan jika tidak, Dia tidak akan melakukannya. Jadi ketika membandingkan konsep kemampuan dengan konsep kehendak, kita menyadari bahwa segala kehendak lebih terbatas dibandingkan segala kemampuan.


Sebuah contoh sederhana: Anda dapat berbicara atau tetap diam pada suatu saat, artinya, Anda memiliki kemampuan untuk melakukan keduanya. Jika ingin berbicara, Anda akan berbicara dan jika tidak ingin berbicara, Anda akan tetap diam. Jadi, kekuatan Anda meliputi keduanya. Namun yang manakah yang akan Anda kehendaki? Anda menghendaki salah satu darinya. Anda menghendaki, baik untuk berbicara maupun tetap diam. Jadi, kekuatan Anda lebih luas daripada kehendak Anda, karena kemampuan meliputi, baik aksi maupun nonaksi, sementara kehendak hanya meliputi salah satu dari keduanya, baik aksi maupun nonaksi. Seseorang memmiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukannya pada waktu yang bersamaaa, tetapi dia tidak dapat menghendaki eksistensi dan noneksistensi dari sesuatu pada waktu yang sama. Jadi, jika membandingkan kemampuan dan kehendak, kita menyadari bahwa jangkauan kehendak lebih terbatas daripada jangkauan kemampuan.

Demikian juga, Tuhan tidak menghendaki semua yang dapat saja dilakukan-Nya. Pelbagai hal dapat dilakukan-Nya, tetapi Dia tidak ingin melaukannya. Di sini orang mungkin bertanya, apa yang membatasi kehendak Tuhan, sehingga dia tidak menghendaki segala sesuatu? Kadang kala terjadi bahwa kehendak tidak ada hubungannya dengan melakukan atau tidak melakukan perbuatan, karena alasan sederhana, bahwa meletakkan dua hal ini secara bersamaan akan menyebabkan kontradiksi dan sebuah kemustahilan, seperti menghendaki eksistensi matahari dan tidak adanya matahari pada waktu yang sama. Jelaslah bahwa hal seperti itu mustahil terjadi. Namun terdapat hal-hal lain yang, meskipun tidak mustahil, tidak Tuhan kehendaki. Mengapa? Apa yang menghalangi kehendak Tuhan dari menghendaki hal-hal tertentu?

Barangkali Anda pernah mendengar bahwa sebagian ilmuwan teologi mengatakan bahwa “Timbulnya perbuatan buruk dari Tuhan adalah mustahil” Hal ini tepat seperti apa yang telah kita katakan. Namun, pertanyaan pokoknya adalah “Apakah Tuhan tidak mampu menghasilkan perbuatan yang buruk?” Kita mengetahui bahwa kemampuan-Nya adalah tidak terbatas, dan bahwa Dia dapat melakukan apapun yang mungkin dilakukan. Namun tidak semua yang berada dalam kemampuannnya dikehendaki. Kehendak Tuhan tidak meliputi hal-hal tertentu. Dia tidak ingin melakukan perbuatan- perbuatan tertentu. Dia tidak ingin memasukkan orang yang melakukan kejahatan ke dalam surga. Mengapa? Jika Dia melakukannya, apa yang akan terjadi? Mengapa kehendak Tuhan tidak meliputi perbuatan ini? Banyak hal lain yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Jawaban sederhana yang dikemukakan sehubungan dengan hal ini adalh bahwa akal mengatakan perbuatan ini jahat, karenanya, Tuhan tidak ingin melakukan dan tidak menghendakinya. Tentu saja, tujuan yang nyata dapat muncul di sini: Apakah Tuhan menerima perintah dari akal? Akal merupakan salah satu makhluk-Nya; Apakah Dia menciptakannnya untuk mengeluarkan perintah kepadaNya, dan menulisksan daftar perintah kepadaNya?

Hasil Keimanan


Seseorang akan mengetahui pasti bahwa seluruh perbuatannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah., sembari meyakini pula bahwa tak satupon dari amal perbuatannya akan musnah, dan semua usahanya akan diganjar Allah dengan syurga dan 'ridhwan'(kerelaan Allah). Bahkan, sekalipon ia hanya memiliki niat semata dan tidak berusaha, Allah tetap akan menganugerahkan pahala dan ganjaran kepadanya. Seseorang yang mengetahui semua itu pasti akan menjalani kehidupan yang penuh semangat dan cinta.

DOA KESELAMATAN

اَللّهُمَّ ارْزُقْناَ تَوْفِيْقَ اَلطَّاعَةِ وَبُعْدَ الْمَعْصِيَّةِ وِصِدْقَ الْنِيَّةِ وَعِرْفَانَ الْحُرْمَةِ وَاكْرِمْناَ بِالْهُدَىْ وَالإسْتِقَامَةِ وِسَدِّدْ أَلْسِتَناَ بِالصَّوَابِ وَاْلحِكْمِةِ وَامْلأْ قُلُوْبَناَ بِالْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ وَطَهِّرْ بُطُوْنَناَ منَ الْحَرَاْمِ وَالْشُّبْهَةِ وَاكْفُفْ أَيْدِيَناَ عَنِ الْظُّلْمِ وَالْسِّرْقَةِ وَاغْضُضْ أَبْصَآرَناَ عَنِ اْلفُجُوْرِ وَالْخِياَنَةِ وِاسْدُدْ أَسْمَآعَناَ عَنِ الَّلغْوِ وَاْلغِيْبَةِ وَتَفَضَّلْ عَلَى عُلَمَآئِنَا بِالزُّهْدِ وَالنَّصِيْحَةِ وِعَلَى الْمُتَعَلِّمِيْنَ بِالْجُهْدِ وَالرَّغْبَةِ وَعَلَى الْمُسْتَمِعِيْنَ بِالإِتِّباَعِ وَالْمَوْعِظَةِ وَعَلَى مَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ بِالشِّفَآءِ وَالرَّحَةِ وَعَلَى مَوْتاَهُمْ بِالرَّافَةِ وَالرَّحْمَةِ وَعَلَى مَشاَيِخِناَ بِالوِقَارِ وَالسِّكيْنَةِ وَعَلَى الشَّباَبِ بِالإناَبَةِ وَالتَّوْبَةِ وَعَلَى النِسَآءِ بِالحَيآءِ وَالعِفَّةِ وَعَلى الأَغنيِاءِ بِالتَوَاضُعِ وَالسَّعَةِ وَعَلَى الفُقَرَآءِ بِالصَبْرِ وَالقَناَعَةِ وَعَلَى الغُزَاةِ بِالنَصْرِ واَلغَلبَة وَعَلى الأُسرَآءِ بِالخَلاَصِ وَالرَّاحَة وَعَلَى الأُمَرَآء بِالعَدْلِ وَالشَفَقَة وَعَلَى الرَعِيَّةِ بِالإِنْصَافِ وَحُسْنُ الِسيْرَةِ وَبَارِكْ لِلْحُجَّاجِ وَالزُّوَارِ فِيْ الزاَّدِ وَالنفَقَةِ وَاقْضَ مَآ أَوْجَبَتْ عَلَيْهِمْ مِنَ الحَجِّ وَالعُمْرَةِ بِفَضْلِكَ وَ رَحمتكَ يآأَرحَمَ الرَّحمين وَ صَلَّى الله عَلَى سيّدنَا مُحَمَّد وَعَلَى آله الطَآهرين وَ صَحْبِهِ الأَخيَار وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَآلمِيْن.



Ya Allah, karuniakan pada kami kemudahan untuk taat, menjauhi maksiat,ketulusan niat, dan mengetahui kemuliaan.. Muliakan kami dg hidayah dan istiqomah.. Luruskan lidah kami dg kebenaran dan hikmah.. Penuhi hati kami dg ilmu dan makrifat.. Bersihkanlah perut kami dari haram dan syubhat, Tahanlah tangan kami dari kezaliman dan pencurian.. Tundukkanlah pandangan kami dari kemaksiatan dan penghianatan.. Palingkanlah pendengaran kami dari ucapan yg sia-sia dan umpatan.. Karuniakanlah kepada ulama kami kezuhudan dan nasihat.. Pada para pelajar kesungguhan dan semangat.. Pada para pendengar kepatuhan dan kesadaran.. Pada kaum muslimin yg sakit,kesembuhan dan ketenangan.. Pada kaum muslimin yg meninggal,kasih sayang dan rahmat.. Pada orang-orang tua kami kehormatan dan ketentraman.. Pada para pemuda kembali (pada jalan Allah) dan taubah.. Pada para wanita rasa malu dan kesucian.. Pada orang-orang kaya rendah hati dan kemurahan.. Pada para pejuang kemengangan dan penaklukan.. Pada para tawanan kebebasan dan ketenangan.. Pada para pemimpin keadilan dan rasa sayang.. Pada seluruh rakyat kejujuran dan kebaikan akhlak.. Berkatilah pada jemaah haji dan para penziarah dalam bekal dan nafkah.. Sempurnakanlah haji dan umrah yang Engkau tetapkan bagi mereka.. dengan karunia dan rahmat-Mu. Wahai Yang Paling Pengasih dari semua yg mengasihi.